Entri Populer

Rabu, 18 Mei 2011

Menghamparkan sajadah di negeri samurai,, InsyAllah 3 tahun lg..

Kuhamparkan Sajadahku di Negeri Samurai Dec 9, '09 10:18 PM
untuk
Hidup sebagai seorang muslim di negara yang mayoritas penduduknya muslim, terkadang membuat muslim di negara tersebut kurang menyadari kenikmatan mereka dalam berislam. Mengapa begitu? Betapa tidak, segala fasilitas yang mendukung peribadatan maupun keperluan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang muslim begitu mudah didapatkan. Masjid ada di mana-mana. Masjid satu dengan masjid lainnya terkadang bahkan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak lebih dari 100 meter saja. Musholla bisa ditemui hampir di setiap tempat dan sarana umum. Ruang dakwah begitu terbuka lebar. Kita bisa dengan sangat mudah menemukan tempat-tempat pengajian. Segala kemudahan-kemudahan tersebutlah yang terkadang membuat seorang muslim menjadi tidak begitu menyadari bahwa semua itu merupakan bentuk nikmat yang Allah berikan.

Namun, kondisi seperti itu akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan para muslim yang ada di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Terlebih lagi bagi sebuah negara yang bernama Jepang. Jangankan yang penduduknya pemeluk agama selain Islam, tetapi justru yang namanya "agama" di negeri sakura nampaknya bukan sesuatu yang dianggap penting oleh penduduknya sendiri. Mungkin bagi teman-teman hal seperti itu bukan suatu hal yang wajar. Di mana setiap orang bisa sangat bebasnya menganut pemahaman bahwa agama bukan suatu hal yang penting. Tapi bagi masyarakat Jepang, hal tersebut memang sudah menjadi anggapan yang sangat umum. Oleh karena itu, jangan langsung percaya ketika ada orang Jepang yang memakai simbol-simbol agama tertentu dalam cara berpakaian mereka. Sebab itu belum tentu menggambarkan agama sebenarnya yang dia anut.

Sebagai contoh saja, ada seorang teman nihon jin yang se-kampus dengan saya saat itu, mengenakan kalung salib di lehernya. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah langsung menebak bahwa dia seorang Nasrani. Tapi kemudian saya dibuat bingung ketika suatu hari dia pernah bercerita pada saya, bahwa dia baru saja mengikuti upacara dalam agama Shinto. "Lho... bagaimana bisa seseorang bisa memiliki dua agama sekaligus?" Begitulah pertanyaan yang ada di dalam benak saya. Tetapi setelah saya tanyakan, ternyata dia sendiri mengaku tidak punya agama. Kalung salib yang dia pakai tidak lebih hanya sebagai mode fashion semata, sedangkan Shinto hanya ia anggap sebagai suatu tradisi yang perlu ia jaga. Terus terang saja, pada awalnya saya dibuat bingung dan terkejut oleh perilaku teman saya tersebut. Tapi lama kelamaan, setelah saya bergaul dengan lebih banyak lagi orang Jepang, akhirnya saya menyadari bahwa sikap seperti itu memang sangat umum bagi masyarakat Jepang.

Ketika saya menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di bumi Sakura, tahun 2005 yang lalu, saya tidak begitu menyadari "keanehan" seperti yang saya ceritakan di atas. Saya tahu bahwa Jepang adalah negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Hal lain yang saya tahu, Jepang adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Shinto atau Buddha. Walaupun sebelumnya saya pun pernah mendengar cerita dari ayah saya bahwa sebenarnya banyak orang Jepang yang tak beragama. Akan tetapi saat itu saya tidak langsung percaya. Saya baru percaya setelah akhirnya semua itu saya alami dan rasakan sendiri.

Dulu, sebelum keberangkatan ke Jepang, saya pernah punya sebuah tujuan yang saya anggap lebih mulia daripada sekedar menuntut ilmu di negeri Samurai itu. Tujuan mulia itu adalah tentu saja dakwah. Ikut ambil bagian dalam mensyiarkan agama Islam yang mulia di Jepang. Niat yang sejak awal begitu menggebu-gebu tersebut, akhirnya lama kelamaan harus banyak terbentur dengan segala keterbatasan. Persiapan mental yang sudah saya lakukan sebelum keberangkatan ternyata harus dihadapkan pada sebuah kenyataan betapa sulitnya menjadi seorang muslim di Jepang. Jangankan untuk berdakwah pada masyarakat Jepang, untuk memenuhi kebutuhan beribadah diri sendiri saja saat itu cukup menyulitkan.

Ketika di Indonesia, saya berusaha membiasakan diri untuk shalat tepat pada waktunya. Terkadang kalau sedang dalam perjalanan atau di luar rumah, dan saat itu sudah masuk waktu shalat, biasanya saya sempatkan untuk mencari masjid terdekat yang ada di sekitar tempat saya berada untuk shalat. Tetapi hal seperti itu hampir tidak dapat saya lakukan selama di Jepang. Rutinitas sebagai kenkyusei saat itu mengharuskan saya banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Sewaktu-waktu saya harus mencari literatur dari satu perpusatakaan ke perpustakaan lain. Berpindah lab dari satu lab ke lab lain, dan seterusnya. Ada kalanya ketika sedang dalam perjalanan, tiba waktu shalat. Dalam kondisi seperti itu, tentu bukan suatu hal yang mudah untuk mencari tempat shalat seperti di Indonesia. Jangankan masjid, musholla saja tidak ada.

Kalau sudah dalam kondisi seperti itu, pada awalnya saya suka meng'qodo shalat. Walaupun sebenarnya dalam hati ada juga perasaan bersalah ketika saya meng'qodo shalat. Karena menurut saya, perjalanan yang saya tempuh tidak begitu jauh. Apalagi dengan sistem transportasi di Jepang yang sudah sangat tertib dan nyaman. Baik chikatetsu ataupun densha, semua jam perjalanannya sudah terjadwal dengan baik dan dijamin tidak akan terlambat. Sehingga memungkinkan bagi kita untuk memperhitungkan waktu perjalanan tanpa harus khawatir terlambat karena kendala transportasi seperti mogok atau macet. Saya khawatir kondisi saya pada saat itu tidak cukup dijadikan alasan untuk meng'qodo shalat. Dan jika sudah seperti itu, maka tidak ada cara lain selain tetap shalat walaupun bukan di tempat yang selayaknya untuk shalat.

Oleh karena itu, mulai saat itu saya selalu membawa sajadah yang saya simpan dalam ransel ke manapun saya pergi. Pengalaman pertama ketika saya harus shalat di tempat umum adalah ketika sedang jalan-jalan di sebuah koen. Saat itu sudah tiba waktu dzuhur. Sedangkan saat itu kondisinya sepertinya tidak memungkinkan jika saya harus shalat di masjid atau musholla. Karena di dekat sana tidak ada masjid atau musholla. Akhirnya saya putuskan untuk shalat di tempat itu juga. Saya berwudhu di toilet yang ada di tempat tersebut. Kemudian saya cari tempat yang bersih, tidak di tengah keramaian orang, dan memungkinkan untuk melakukan shalat dengan tenang. Setelah mengamati lingkungan sekitar, akhirnya dapat juga tempat yang cukup nyaman. Tempatnya di belakang papan besar yang bergambarkan peta lokasi koen tersebut. Saya hamparkan sajadah dan memulai shalat di sana.

Setelah sampai pada rakaat kedua, saya lihat di depan ternyata ada seorang anak kecil yang terus saja memperhatikan saya sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Anak itu tetap saja terlihat walaupun saya sudah menundukkan pandangan ke tempat sujud. Karena merasa terganggu, maka saya pun menutup mata dan terus saja shalat. Tak lama kemudian ternyata anak itu datang lagi, kali ini dengan ibunya. Ternyata dia malah mengajak ibunya untuk melihat gerakan shalat yang saya lakukan. Walaupun tahu bahwa saya tengah jadi objek tontonan bagi mereka, saya berusaha tidak mempedulikan keberadaan mereka dan tetap shalat.

Karena terus merasa diawasi, akhirnya saya terus shalat sambil menutup mata sampai selesai. Setelah selesai dan mengucapkan salam, saya baru membuka mata, dan saya dapati mereka berdua ternyata sudah tidak ada di hadapan saya. "Alhamdulillah sudah shalat, lega..." Gumam saya dalam hati. Segera saja saya lipat sajadah dan memasukkannya kembali ke dalam ransel.

Ketika saya keluar dari balik papan peta lokasi yang besar itu, ternyata anak kecil dan ibu itu masih ada di bagian depan papan. Saya pun tersenyum pada mereka berdua. Ketika saya hendak pergi, sang ibu malah memanggil saya.

"Maaf, apakah saya bisa bertanya sedikit?" Kata si ibu.

"Oh... silahkan, ada apa?" Jawab saya.

"Begini, perkenalkan ini anak saya, namanya Taro, dia tadi bertanya pada saya tentang yang Anda lakukan di balik papan tadi, saya tidak bisa menjawabnya, tapi Taro sangat ingin tahu apa yang Anda lakukan. Saya khawatir memberikan jawaban yang salah pada anak saya. Jadi bisakah Anda menjelaskan gerakan apa yang Anda lakukan tadi di balik papan itu?" Tanya sang ibu.

Saya pun tersenyum mendengar pertanyaan si ibu tadi. Lalu saya jawab, "Tadi saya sedang shalat."

"Shalat? apa itu shalat?" Ibu itu balik bertanya dan nampak kesulitan menyebutkan kata "shalat" dengan lidah Jepangnya.

Kemudian saya berusaha menjelaskan kepada ibu tersebut semampunya yang saya bisa. Saya katakan bahwa shalat adalah ibadah yang harus dilakukan oleh orang beragama Islam, sama seperti ketika ibu melakukan upacara Shinto. Si ibu pun akhirnya mengerti apa yang tadi saya lakukan dan dia pun menjelaskan pada anaknya seperti yang saya katakan.

Begitulah... menyikapi perlakuan seperti itu memang dibutuhkan sikap yang hanif (lurus) dan ahsan (baik). Sebab anggapan mereka yang menyatakan bahwa shalat adalah gerakan-gerakan yang aneh, boleh jadi dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang shalat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang bijaksana dari kita sendiri untuk menghadapinya. Jangan sampai perlakuan seperti itu malah menjadikan kita malu untuk shalat di tempat umum jika memang sudah waktunya shalat. Sebab semakin sering orang Jepang (nonmuslim) melihat kita shalat, insya Allah lama kelamaan mereka pun akan semakin mengerti akan keharusan tersebut.

Ini hanya sebuah catatan kecil yang ingin saya sampaikan pada teman-teman semua. Pada intinya, janganlah karena suatu alasan yang tidak terlalu mendesak, maka kita melalaikan shalat. Shalat bisa di mana saja dan kapan saja, tentunya selama memenuhi syarat sahnya shalat. Jadi bersyukurlah bagi kita yang hidup di negara mayoritas muslim. Di mana berbagai kemudahan fasilitas beribadah bisa kita dapatkan. Tidak seperti saudara-saudara kita yang saat ini tengah hidup sebagai muslim di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

*****

Kamus mini:

1. Nihon jin : Orang Jepang asli
2. Senpai : Senior / kakak kelas
3. Kenkyusei : Mahasiswa riset
4. Chikatetsu : Kereta bawah tanah (subway)
5. Densha : Kereta rel biasa
6. Koen : Taman kota

Copas dari MP mujahidsamurai

Akhwat Korsad VS Ikhwan Santika

Akhwat Korsad VS Ikhwan Santika Nov 16, '09 11:53 PM

Tak seperti biasanya, pengepungan kali ini berjalan begitu lama. Maslamah sendiri, sang panglima khalifah itu tidak dapat menentukan sampai kapan pengepungan itu akan berhasil. Sementara itu, esok atau lusa pasti surat khalifah akan datang dan menanyakan mengapa ekspedisi militernya memakan banyak waktu, tidak seperti biasanya.

Insting kepemimpinannya segera menuntunnya untuk melakukan pengintaian secara rahasia. Ia berniat hendak mencari celah yang mungkin dapat menembus benteng. Maslamah yakin, bahwa kemenangan akan diperoleh, jika pasukannya mampu menembus benteng. Persoalannya, bagaimana yang memungkinkan untuk diterobos itu yang belum ditemukan. Setelah mengadakan penjajagan dengan seksama, Maslamah menyimpulkan bahwa terdapat lorong yang memungkinkan untuk ditembus. Dan itu membutuhkan relawan yang berani untuk melakukannya. Jika ia berhasil masuk ke dalam benteng, maka ia akan dapat membukakan pintu sebagai jalan masuk penyerbuan lebih lanjut. Di kemah, Maslamah membicarakan hal tersebut dengan beberapa perwiranya. Setelah selesai strategi itu dikemukakan, dengan menatap satu persatu wajah para perwiranya, Maslamah menantang siapa di antara mereka yang berani masuk menembus lorong, semuanya diam.

Maslamah tafakur, tiba-tiba dari arah lain datang tentara berkuda dengan wajah ditutup cadar. Ia mengatakan sanggup melaksanakan tugas berat tersebut saat itu juga, karena waktu tersebut dinilai tepat untuk melakukan penyusupan. Maka, ia pun segera berangkat. Maslamah pun melepas dengan bekal do’a. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara teriakan takbir dari pintu benteng. Tampaknya dia telah berhasil menerobos benteng. Setelah berhasil membunuh penjaganya, orang bercadar itu segera membuka pintu benteng. Di depan pintu benteng ia berteriak dengan takbir berkali-kali. Suara itu seketika membangkitkan semangat kaum muslimin. Bagaikan air bah, para mujahidin fi sabilillah itu menyerbu ke dalam benteng. Dalam waktu singkat, benteng jatuh dan pasukan musuh dapat dihancurkan. Banyak di antara mereka yang mati, sementara lainnya dapat ditawan.

Setelah perang usai, Maslamah masih memikirkan prajurit bercadar itu. Ia perintahkan seluruh perwiranya untuk mencari, siapakah sebenarnya prajurit bercadar itu. Sampai waktu yang lama, tak ada juga yang mengaku. Namun tak lama berselang kemudian, datanglah orang bercadar dengan berjalan kaki. Sesampainya di depan Maslamah, ia pun bertanya,”Apakah tuan masih mencari prajurit bercadar?”. ” Benar, kaukah orangnya?”, ”Saya dapat menunjukan orangnya, asal Tuan mau berjanji kepadaku!”. ”Baiklah. Apa yang harus kujanjikan untukmu?”. ”Tuan jangan menanyakan siapa namanya. Tuan jangan memberi hadiah apapun kepadanya. Dan ketiga, tuan jangan menceritakan kepada seorangpun! Apakah tuan mau berjanji memenuhi 3 syarat itu?”. ”Ya saya berjanji. Tak akan aku bertanya siapa namanya. Tak akan aku beri hadiah kepadanya dan terakhir, aku berjanji tak akan menceritakan hal dirinya kepada siapapun.” ”Ketahuilah panglima, orang itu adalah yang ada dihadapan Tuan”. Selanjutnya setelah orang bercadar itu berlalu, Maslamah mengangkat tangannya berdo’a, ”Ya Allah kumpulkanlah aku di surga dengan orang bercadar itu!”.

Kisah di atas menggambarkan keihklasan membawa kemenangan. Imam Syahid Hasan al Banna, ”Yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa seorang al akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt. Mengharapkan keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan begitu ia telah menjadi tentara aqidah, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia. Dengan begitu seorang al akh telah memahami slogan ”Allah tujuan kami”. Sungguh, Allah Mahabesar dan bagi-Nya segala puji”.

Dakwah ini, dengan segala tribulasinya, membutuhkan mujahid yang tulus dan ikhlas membela Agamanya, bukan yang berharap bidadari atas amal yang telah dilakukannya, apalagi menurutnya bidadari itu telah turun ke bumi semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Sehingga di penghujung do’anya ”Ya Allah, jadikanlah aku orang yang senantiasa dikelilingi oleh bidadari-bidadari bumi. Agar kelak di surga aku tidak canggung lagi”. Awas ikhwan santika, mujahid berjilbab yang senang dikelilingi para akhwat dan betah bekerja di lingkungan keakhwatan.

Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam dakwah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71). Dakwah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Sedangkan permasalahan dakwah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Jangan sampai seperti dalam beberapa situasi diindikasikan bahwa ghirah, militansi, dan keagresifan berdakwah akhwat lebih daripada ikhwan sehingga timbul istilah akhwat korsad, militan, perkasa, dan mandiri. Semoga alur dakwah kita kembali menemukan format yang sebenarnya, ikhwan korsad dan akhwat santika.
Copas dr blog mujahidsamurai

Menyelami hati dan perasaan akhwat


Ada sebuah ungkapan yang menarik , yaitu "Hati wanita ibarat sebuah palung di lautan, begitu dalamnya sehingga engkau hampir tak akan menemui dasarnya."

Pembelaran

Pepatah mengatakan, "walaupun keluar dari dubur ayam, tetapi jika itu adalah telur maka ambillah". Pepatah tersebut kiranya dapat kita terapkan pada hal yang akan saya ceritakan di bawah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang pandai. Bahkan beberapa ayat dalam Al-Qur'an pun menjelaskan bahwa sebelum dilaknat oleh Allah karena kesombongan mereka, bangsa Yahudi disebut sebagai umat pilihan. Terbukti, sampai sekarang pun banyak sekali orang-orang Yahudi yang menguasai berbagai sektor strategis di seluruh belahan dunia. Dalam sebuah seminar yang pernah saya ikuti, pembicara dalam seminar tersebut pernah mengatakan bahwa dunia ini sebenarnya hanya digerakkan oleh beberapa orang saja. Mereka lah yang mengambil peranan penting, seolah dunia ada dalam genggaman mereka dan bisa mengatur segala sesuatunya. Termasuk resesi dunia, naik-turunnya nilai mata uang, harga minyak, bahkan peperangan antar bangsa.

Fakta yang kita temukan sekarang ini tentunya membawa kita pada satu pertanyaan. Sesungguhnya apa yang membuat bangsa Yahudi begitu "berjaya" di masa sekarang? Adakah hal-hal tertentu yang membuat mereka begitu menguasai dunia saat ini? Marilah kita sama-sama mengambil pelajaran positif dari apa yang diterapkan bangsa Yahudi pada anak keturunannya, yang pada akhirnya dapat membuat mereka semaju sekarang ini.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan kita bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana.

Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Ibu yang sedang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

"Ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."

Sejak awal mengandung, si ibu suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet).


Kacang Badam


Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya, mereka akan makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Anak-anak Yahudi sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah-buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab, dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Di kelas 1 hingga 6, anak-anak Yahudi akan diajari matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun ke belakang!!!” Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi

Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak, dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Di samping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis, dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. Satu lagi yang diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Kesimpulannya, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.

Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari saya pribadi, tapi kata itu justru dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu.

Kata Dr Stephen, "jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70 cents !!!"

“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Di tangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?"

Goes to japan university...

BISMILLAH, Semoga Allah meridhoi… ^_^
Renstra 2 Tahun Menuju University Jepang (2014) :
1. Asah conversation inggris : bulan April 2011 kursus conversation di Lembaga IPB ( max 6 bulan lancar berbicara inggris sampai oktober)
2. Belajar dasar bahasa jepang Oktober- Desember 2011
3. Targetan bekerja bulan November 2011
4. Persiapan S1 di Universitas Sahid daftar bulan agustus 2011, perdana Kuliah 28 September 2011, masuk di jurusan Teknologi Industri Pangan
5. Setelah itu persiapan Tes TOEFL dari buku Smart way to TOEFL ( 3 bulan), januari tes TOEFL targetan score 551
6. Lulus S1 jurusan Teknologi Idistri Pangan dengan IPK 3,5 selama 2 tahun,
7. Bulan januari 2012 kursus bahasa jepang hingga lancar
8. Tahun 2012 mulai cari bahan riset S2 dan mencari professor jepang dan ikut tes beasiswa MEXT
9. Ikut tes EJU di UI depok
MAN JADDA WA JADDA

EJU

Informasi Seputar EJU (Examination for Japanese University) Jul 18, '09 12:29 AM
untuk
EJU adalah Examination for Japanese University Admission for International Students. Ujian yang dilaksanakan untuk mengukur kemampuan Bahasa Jepang dan kemampuan bidang-bidang akademis dasar yang diperlukan di Universitas di Jepang bagi mereka yang berminat belajar di lembaga pendidikan tinggi di Jepang sebagai mahasiswa asing.

EJU merupakan ujian pengganti dari dua jenis ujian yang selama ini pernah diwajibkan untuk diikuti oleh berbagai universitas (tingkat undergraduate) dan berbagai lembaga pendidikan tinggi lainnya di Jepang sebagai ujian masuk. Dua ujian yang diganti itu adalah General Examination for Foreign Student (terakhir dilaksanakan pada bulan Desember 2001) dan Japanese Language Proficency Test atau tes kemampuan bahasa Jepang.

Beberapa lembaga pendidikan di Jepang sudah mulai memakai sistem EJU. Selain itu, banyak juga universitas yang memakai hasil EJU ini sebagai materi utama dalam menentukan kelulusan penerimaan mahasiswa asingnya. Tetapi ini tentu saja bukan berarti bahwa EJU adalah ujian masuk universitas yang dilaksanakan secara khusus oleh universitas. Hasil EJU ini kemudian akan digabungkan dengan hasil studi SMA kemudian akan dipertimbangkan sebagai materi untuk penerimaan mahasiswa di suatu universitas. Sehingga dengan menggunakan sistem ini, calon mahasiswa asing tidak perlu datang ke Jepang untuk mengikuti ujian masuk universitas. Calon mahasiswa tersebut bisa tetap tinggal di negaranya sendiri, dan dalam waktu yang sama tetap bisa melaksanakan proses seleksi masuk univeritas Jepang.

Kelebihan lain dari EJU ini, di antara para peserta EJU yang terbaik bisa mendapatkan reservasi untuk memperoleh beasiswa 'Honors Scholarship for Privately Financed Foreign Student' dari Monbukagakusho setelah yang bersangkutan masuk universitas di Jepang.

Sebelum mengikuti tes EJU, kamu harus menentukan akan masuk universitas serta jurusan di bidang apa terlebih dahulu. Kemudian kumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai penerimaan mahasiswa asing, serta apakah universitas tersebut memakai sistem EJU dalam penerimaan mahasiswanya.

Dalam tes EJU kamu akan diberikan pilihan mata ujian untuk IPA dua pilihan, antara biologi, kimia, dan fisika. Kemudian ada mata ujian matematika untuk course 1 jurusan sosial dan course 2 jurusan IPA. Universitas tersebut yang nantinya akan menentukan apa subjek materi dalam tes EJU yang harus kamu ambil.

Tahapan tes EJU secara garis besar adalah sebagai berikut:

1. Setelah pelamar studi memiliki informasi syarat yang ditentukan, selanjutnya adalah mengajukan pendaftaran tes EJU, memilih course 1 atau 2 kemudian mata ujian IPA yang dipilih.

2. Setelah melaksanakan EJU, Jasso akan mengumumkan hasil ujian tersebut pada peserta.

3. Kamu harus melamar ke universitas dengan mencantumkan nomor ujian EJU dan melengkapi persyaratan yang diperlukan.

4. Universitas tersebut akan meminta hasil EJU kamu kepada Jasso berdasarkan nomor ujian kamu.

5. Jasso akan memberikan hasil tes kamu kepada universitas kemudian universitas akan memutuskan menerima atau tidaknya kamu.

Tes EJU diselenggarakan atas autoritas Jasso (Japan Student Service Organization) dengan kerjasama Ministry of Education, Culture, Sports, Science, dan Technology (MEXT, Mendiknas Jepang), The Ministry of Foreign Affairs (Kementrian Luar Negeri) dan universitas serta lembaga yang terkait.

Subjek materi ujian EJU adalah sebagai berikut:

1. Japanese as a Foreign Language (JFL), dilakukan untuk mengukur kemampuan bahasa Jepang (secara akademis) yang diperlukan untuk studi di Jepang. Waktu pengerjaannya adalah 120 menit. Nilainya berkisar antar 0-400.

2. IPA, dilakukan untuk mengukur kemampuan dasar akademis (fisika, kimia, dan biologi) yang diperlukan untuk studi di departemen ilmu alam di universitas Jepang. Peserta cukup memilih 2 mata pelajaran saja di antara 3 mata pelajara IPA tersebut. Waktu pengerjaannya adalah 80 menit. Nilainya berkisar antara 0-200.

3. Matematika, dilakukan untuk mengukur kemampuan dasar akademis di bidang matematika yang dibutuhkan untuk studi di universitas Jepang. Waktu pengerjaannya adalah 80 menit. Nilainya berkisar antara 0-200.

4. Japan and The World History, dilakukan untuk mengukur kemampuan dasar akademis yang diperlukan di bidang seni, kemampuan berpikir dan logis, untuk studi di universitas Jepang. Waktu pengerjaannya adalah 80 menit. Nilainya berkisar antara 0-200.

Bahasa pengantar ujian akan diberikan dalam dua pilihan bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Pada saat melamar, peserta ujian dapat memilih bahasa mana yang dikehendaki kecuali mata ujian Japanese as Foreign Language yang hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Cara menjawab pertanyaannya ada dua cara, yaitu pilihan ganda (dalam lembar jawaban) dan essay menulis untuk subjek bahasa Jepang dalam bagian writting.

Kalau kamu berminat untuk mengikuti tes EJU, kamu bisa mendaftar dan mendapatkan formulir pendaftarannya di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (PSJ-UI) Kampus Universitas Indonesia, Depok. Pada saat mengisi formulir EJU, kamu akan mendapatkan rincian mengenai hal ini. Besarnya beasiswa yang disediakan adalah 52.000 yen/bulan. Setelah hasil tes EJU keluar, biasanya akan diumumkan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa tersebut.

Nantinya, hasil tes ujian akan dikirimkan oleh Jasso kepada perwakilan di Indonesia dan akan dikirimkan ke alamat kamu yang tertulis di 'Label for Source Report'. Untuk hasil ujian sesi pertama biasanya akan dikirimkan paling lambat 3 bulan setelahnya. Sedangkan untuk hasil tes sesi kedua (sekitar bulan November) biasanya pada bulan Januari. Jika hasilnya belum didapatkan, kamu bisa menghubungi kantor perwakilan terdekat (Kedutaan Besar Jepang di Jakarta atau Konsulat Jendral Jepang di Surabaya).

Tatapan Penuh Cinta di Kala Mata Terpejam

Tatapan Penuh Cinta di Kala Mata Terpejam May 7, '09 12:47 AM

Pernahkah kamu menatap orang-orang terdekat kamu saat ia tidur? kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.


Perhatikanlah ayah kita saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah ke ibu kita. Hmm... kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai - belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu... ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat... semuanya orang - orang yang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di akukan orang - orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Allah mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah- wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata: " Betapa lelahnya aku hari ini" dan menyebab lelah itu? juga untuk siapa dia berlelah - lelah?

Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari - hari suka dan duka bersama kita.

Renungan untuk kita semua...

Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah - wajah mereka... rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua... bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "ORANG-ORANG TERKASIH ITU TIDAK LAGI MEMBUKA MATANYA.... UNTUK SELAMANYA!!!"

Test IQ

ni adalah test iq yang asalnya dari Jepang, mau coba ? berani coba ? ya hitung2 uji kemampuan lah bagi yg mau ikut aptitude test...

Ceritanya begini :

"Alkisah ada Keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, 2 Putra dan 2 Putri tersesat di Hutan Belantara, di hutan itu juga ada Polisi yang baru saja menangkap Penjahat...

Akhirnya keluarga itu ketemu juga jalan keluar dari hutan belantara itu, sayangnya harus menyeberangi Sungai yang cukup dalam, Secara tidak sengaja Keluarga itu bertemu dengan Polisi dan Penjahat pada saat mau nyebrangin sungai...

Kebetulan di pinggir sungai hanya ada satu perahu..."

Nah coba pikirkan bagaimana menyeberangkan keluarga, polisi dan penjahat ???

Ada ketentuannya :

1. Yang bisa mengemudikan perahu cuma Ayah, Ibu atau Polisi
2. Satu Perahu cuma muat dua Orang
3. Ayah tidak boleh ditinggal bersama Putrinya,
karena putrinya akan dipukul oleh Ayah
4. Ibu tidak boleh ditinggal bersama Putranya,
karena nantinya putrinya aka dipukul oleh Ibu
5. Namun demikian, apabila ada Ayah dan Ibu,
maka Putra dan Putri aman
6. Penjahat tidak boleh ditinggal oleh Polisi,
Karena bisa memukul siapa saja
7. Tiap orang mesti bisa nyebrang semua, ga boleh ada yg ditinggalin...

Yang udah ga sabar pengen coba mecahin test IQ ini bisa coba gamenya :

http://freeweb.siol.net/danej/riverIQGame.swf

Tips Mendapatkan Beasiswa ke Jepang

Tips Agar Lulus Seleksi Beasiswa Study di Jepang

Bisa sekolah atau kuliah di Jepang tentunya menjadi impian banyak orang. Apalagi kalau kuliahnya nggak bayar alias gratis. Termasuk saya, dapat merasakan perkuliahan di Jepang adalah salah satu impian saya sejak dulu. Tapi ya namanya juga sekolah gratisan, pastinya cukup sulit juga untuk mendapatkannya.

Entah mungkin karena memang banyak peminatnya, atau karena memang syaratnya terlalu sulit dipenuhi, yang jelas... yang saya rasakan untuk mendapatkan beasiswa itu memang tidak mudah. Butuh perjuangan yang super. Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa itu sudah saya mulai sejak baru lulus SMA. Semenjak itu, saya sudah pernah mencoba ikut tes EJU (Examination of Japanese University). Tes EJU adalah tes seleksi masuk universitas Jepang yang dikhususkan untuk calon mahasiswa asing (yang bukan berasal dari Jepang). Ujian EJU biasanya diadakan setahun sekali tiap bulan Juni/Juli. Ketika mengikuti seleksi EJU, dua kali berturut-turut saya gagal. Tetapi pada akhirnya saya malah mendapat beasiswa justru dari Monbukagakusho. Ini sih namanya minta Toyota tapi malah dikasih BMW, hehehe... Ohya, sedangkan untuk penjelasan selengkapnya mengenai tes EJU silahkan klik di situ

Umumnya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa sangat besar bagi orang yang memiliki nilai akademis tinggi. Tetapi berdasarkan cerita beberapa teman, juga pengalaman yang saya alami, ternyata hal ini juga tidak selalu menjamin. Bisa dikatakan gampang-gampang susah untuk mendapatkannya.

Berikut ini saya akan coba memberikan tips untuk mendapatkan beasiswa terlepas dari masalah nilai akademis. Sengaja saya tidak memberikan tips khusus dalam mendapatkan nilai akademis yang tinggi. Karena saya rasa hal itu memang suatu kekhususan yang belum tentu setiap orang dapat menerapkan tips yang sama. Bukankah cara belajar tiap orang itu berbeda-beda? Ada yang tipe pendengar, dia bisa mengerti dengan mudah cukup hanya dengan mendengar. Ada tipe visual, dimana dia akan mudah mengerti jika belajar dengan melihat suatu gambaran visual. Ada juga yang harus benar-benar mempraktekkan apa yang dipelajari untuk dapat mengerti. Nah... kalau soal tipe belajar, tentu kamu sendiri yang tahu apa tipe belajar yang cocok untuk kamu. Tinggal kembangkan saja sesuai dengan minat dan bakat kamu. Jika disertai usaha dan doa yang kuat, Insya Allah akan berhasil.

Sebenarnya tiap lembaga pendonor dana beasiswa menerapkan cara-cara dan tahapan seleksi yang berbeda-beda. Namun walaupun demikian, umumnya tahapan yang diterapkan memiliki cukup banyak kesamaan. Oleh karena itu, saya akan coba memberikan tips tentang beberapa tahapan seleksi yang pada umumnya sama diterapkan di banyak lembaga pendonor dana beasiswa. Tahapan seleksi yang pada umumnya sama dilakukan oleh berbagai lembaga donor adalah tes tulis, tes wawancara, dan penulisan essay rencana riset (biasanya khusus untuk program S2 dan S3).

1. Tes Tulis

Jenis ujian tes tulis umumnya diterapkan hampir di semua proses seleksi beasiswa. Jenis soal yang diberikan tentunya disesuaikan dengan tingkatan beasiswa yang akan diberikan, juga jurusan yang akan kita ambil di Jepang. Jenis mata pelajaran yang diujikan juga tergantung dari program yang kita ambil. Tetapi umumnya jenis mata pelajaran yang diujikan akan dibagi berdasarkan dua kelompok, yaitu kelompok IPA dan kelompok IPS. Bagi kelompok IPA, biasanya yang akan diujikan adalah matematika, fisika, kimia, dan biologi. Sedangkan untuk program IPS, biasanya yang diujikan adalah sejarah Jepang dan dunia, mata pelajaran IPS, dan matematika. Kamu bisa mempelajari berbagai tipe soal yang diujikan dalam tes tulis ini dari soal-soal yang sudah diujikan di tahun sebelumnya. Untuk mendapatkan soal-soal ujian yang sudah pernah diujikan, kamu bisa mengakses situs Study Japan atau Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Di sana kamu bisa mendownload berbagai tipe soal yang umumnya diujikan untuk seleksi beasiswa Jepang. Kamu bisa belajar dan latihan mengerjakan soal dari sana. Walaupun tiap tahun tentu soalnya akan berbeda, tetapi umumnya tipe soalnya tidak akan jauh berbeda dari tahun ke tahun. Sama halnya ketika kamu belajar untuk seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk masukperguruan tinggi negeri di Indonesia. Cobalah pelajari setiap soal dengan baik. Kemudian coba kerjakan setiap soal. Jika kesulitan, jangan sungkan untuk menanyakannya ke guru atau orang lain yang bisa dimintai bantuan.

2. Tes Wawancara

Umumnya yang dilihat dari wawancara bukan hanya kemampuan akademis saja, tetapi juga dilihat kegigihan, kemauan, serta niat baik dari calon penerima beasiswa. Oleh karena itu, tunjukkan niat kamu bahwa di samping ilmu yang kamu dapatkan, kamu juga ingin menjadi penghubung dalam peningkatan kerjasama antara Indonesia dan negara Jepang. Biasanya pewawancara menghendaki ada kontribusi kamu dalam membina hubungan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung di bidang pertukaran budaya. Tunjukkanlah sikap yang santun ketika sedang diwawancara. Jangan berikan jawaban yang berbelit-belit dan cukup jawab apa yang ditanyakan saja, tidak perlu melebar ke mana-mana, kecuali jika memang diminta untuk menjelaskan. Bersikaplah se-rileks mungkin dan jangan menunjukkan sikap tegang atau gugup. Tapi biasanya si pewawancara akan mencairkan suasana dengan sedikit bergurau ketika suasana terkesan tegang. Jadi tidak perlu takut! Selain itu, jangan terlalu khawatir dengan masalah bahasa. Sebab biasanya bahasa yang digunakan dalam wawancara belum tentu menggunakan bahasa Jepang. Bahkan ketika saya melaksanakan seleksi wawancara, saya diwawancarai menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa lembaga pendonor juga terkadang ada yang menyaratkan wawancara dalam bahasa Inggris. Tetapi bahasa Jepang belum banyak digunakan, bahkan hampir tidak sama sekali. Terkecuali kalau kamu memang berasal dari jurusan Bahasa Jepang, dan bermaksud untuk melamar beasiswa program studi Bahasa Jepang.

3. Menyusun Rencana Studi

Dalam menyusun rencana studi, sebaiknya kamu memberikan alasan yang kuat mengapa kamu memilih bidang studi tersebut. Untuk memperkuat, dapat didukung dengan menjelaskan latar belakang pendidikan kamu. Sekaligus pentingnya studi tersebut bagi kemajuan di Indonesia dan dapat memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perkembangan ekonomi, sosial, dan ilmu pengetahuan. Dalam memilih program studi, usahakan itu benar-benar merupakan minat kamu sendiri, bukan karena pengaruh orang lain. Sebab nantinya itu akan sangat berpengaruh pada saat kamu mencoba menjelaskan tentang rencana studi tersebut. Para penyeleksi beasiswa biasanya cukup ahli dalam menafsirkan bahasa pelamar beasiswa dalam essay yang mereka tuliskan. Dari sana mereka akan tahu, apakah kita benar-benar minat dengan bidang yang kita pilih atau hanya sekedar ingin tahu saja. Lebih jauh lagi, kalau memang kamu lulus dan mendapatkan beasiswa tersebut, kamu akan disalurkan ke jurusan/program studi yang sesuai dengan pilihan kamu. Jadi kalau dari awal saja tidak mantap dengan pilihan kita, dikhawatirkan nantinya akan berpengaruh pada saat menjalani kegiatan perkuliahan yang sebenarnya.

Kalau memang kamu sulit untuk mendapatkan beasiswa Jepang yang disediakan dari Indonesia, jangan kuatir! Sebab beasiswa yang disediakan bagi mahasiswa asing yang ada di Jepang ternyata lebih banyak jumlahnya. Selain itu peluangnya pun bisa lebih besar jika dibandingkan dengan mendapatkan beasiswa di Indonesia. Hanya saja, tentu harus disertai dengan persiapan dan pertimbangan yang matang. Cukup banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika kita memilih alternatif mencari beasiswa langsung di Jepang. Mulai dari risiko tidak lulus, biaya hidup yang harus ditanggung sendiri selama mencari beasiswa, dan risiko-risiko lainnya yang juga harus dipertimbangkan. Tapi walaupun demikian, jangan mudah menyerah ya! Insya Allah yang namanya hasil itu akan selalu berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Jika usahanya maksimal, pasti hasilnya juga maksimal. Selamat Berjuang!

Subhanallah mahasiswa indonesia di jepang...

Subhanallah, mahasiswa indonesia di jepang?
inilah dia kelakuan mahasiswa indonesia di jepang ternyata mereka berprestasi menangkan kompetisi internasional yg diadakan desember 2010,dan diberi penghargaan january lalu, yang satu menang dlm bidang Laser-Induced Breakdown Spectroscopy yg satu menang dlm bidang sosial politik

Dua orang mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Jepang memenangkan kompetisi internasional pada tahun 2010 ini. Satu orang memenangkan kompetisi dalam bidang sosial sciences dan seorang lagi dalam bidang applied sciences. Penghargaan dalam bidang sosial sciences disabet Sdr. Shofwan Al Banna Choirruzad sementara untuk bidang applied sciences di peroleh Sdr. Ali Khumaeni.

Sdr. Shofwan Al Banna Choiruzzad saat ini melanjutkan studi Doktornya di Ritsumeikan University, Kyoto dengan beasiswa DIKTI. Shofwan merebut juara kedua (2nd place) pada Youth Assay Competition 2010 dalam bidang Democracy that Delivers, yang diselenggarakan oleh CIPE (Center for International Private Enterprise) yang berafiliasi dengan US Chambers of Commerce,bersamadengan NED (National Endowment for Democracy). Artikel Shofwan berjudul “Making politics fun – why youth empowerment is important and how to make that happen”.

Penghargaan dalam bidang applied sciences diraih oleh Sdr. Ali Khumaeni, mahasiswa Indonesia yang studi di Fukui University Jepang dengan beasiswa MEXT dalam bidang Laser-Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS) untuk aplikasi keamanan melalui analisis serbuk. Penghargan itu didapatnya dari 6th International Chemical Congress of Pacific Basin Societies (Pacifichem 2010) yang diselenggarakan di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, 15-20 Desember 2010.

Makalah Khumaeni dengan judul “A Unique Technique for Rapid Analysis of Tiny Amount of Powder Sample Using Transversely Excited Atmospheric CO2 Laser-induced He Gas Plasma at 1 atm”, meraih penghargaan untuk bidang kategori keamanan. Mahasiswa program Master tahun kedua ini menawarkan metoda baru untuk menganalisis serbuk yang tersedia dalam jumlah sedikit (sekitar 2-5 mg). Serbuk dalam jumlah runut terkadang ditemukan di laboratorium kimia tanpa disertai dengan label (karena hilang, dll) sehingga sering kali muncul kesulitan untuk membedakan dengan serbuk lain. Hal ini karena adanya kesamaan warna dan ukuran partikelnya.Khumaeni berencana melanjutkan studinya ke program Doktor di laboratorium yang sama mulai April 2011.

ini OKNUMNYA

Shofwan Al Banna Choiruzzad