Bismillah...
Ada yang hangat membasuh pelupuk
mata dan pipi ini. Endapan kristal yang tak mampu terbendung lagi, kini
tumpah menguraikan kesedihan dan menyisakan isak tangis sesenggukan. ada yang
bergemuruh di dalam dada. ada yang bergejolak di dalam jiwa. semua beradu
memainkan nuansanya...Dengan segenap hati kurangkaikan kata demi kata untuk
mereka yang kini entah di mana. Aku merasa kehilangan...sangat kehilangan!
Karena itu, kucoba tuliskan rinduku, pada mereka yang dulu...
Ahh..masih terekam dalam ingatan, kisah-kisah penuh hikmah dalam bingkai
perjuangan. Tatkala dakwah menjadi suatu kesadaran dan semangat berkorban
bergelombang di seantero pelosok negeri, demi satu kejayaan, ISLAM! Para
muslimah berbondong-bondong mengenakan hijab. Tak peduli resiko dan tantangan
yang mereka hadapi begitu hebat. Ancaman dan cercaan dari orang-orang
terdekat. Keluarga, pihak kampus, maupun sahabat. Adanya kecurigaan dan
kekhawatiran akan mereka yang dianggap pengikut aliran sesat. Namun, tak
segores pun rasa gentar tersirat di raut wajah mereka. Hanya ada satu cita,
hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Sungguh! merekalah akhowat
tangguh itu! Sekarang, jarang sekali aku melihat raut teduh nan bersahaja
seperti mereka dulu. Wajah-wajah bersih dan bercahaya karena polesan air
wudhu dan bedak tawadhu'. Kesederhanaan dan kepolosan yang lahir dari
jiwa-jiwa yang tulus dan qona'ah. Kelembutan yang berbalut kedewasaan dan
setegar batu karang. Ah, aku rindu.... Entah apa yang terjadi. Saat ini, yang
sering tampak adalah pemandangan mereka yang mengaku akhwat, berpenampilan
modis dengan pakaian serba ketat, ditambah wangi parfum yang menebar
aroma syahwat, jilbab kecil berwarna-warni dengan motif mencolok,
bahkan ada yang tidak mengenakan kaos kaki. Astaghfirullah...(wahai ukhti,
jagalah dirimu dari fitnah lelaki...)
Masih membekas dalam ingatan, ketika masjid-masjid ramai dengan kaum lelaki
yang sholat berjama’ah. Lingkaran-lingkaran di masjid dan
kosan yang menjadi sarana pembinaan. Sebuah proses pembentukan
(Tansyi’ah), pemeliharaan (Ar-Ri’ayah), pengembangan (At-Tanmiyah),
pengarahan (At-Taujih) dan pemberdayaan (At-Tauzhif). Yang kelak darinya akan
muncul generasi-genarasi tangguh yang menjadi tonggak berdirinya suatu
kejayaan (InsyaAllah...). Mereka, yang demi menghadiri lingkaran-lingkaran
ilmu itu harus menempuh jarak bermil-mil, menyeberangi sungai, menerobos
hutan dan semak belukar. Mereka dicurigai, dituduh, ditangkap, dipenjara,
diburu, bahkan dibunuh oleh mata-mata musuh yang tidak akan pernah berhenti
mengusik umat Islam sampai kita mengikuti agama mereka (musuh-musuh
Allah-pen). Namun, percuma saja! Sia-sia. Mereka yang dipanggil
mujahid-mujahidah sejati tidak akan pernah bergeming. Semua yang dilakukan
musuh-musuh Allah itu tak kan sanggup menyiutkan nyali-nyali mereka. Yang ada
malah api semangat yang kian berkobar, membunuh atau terbunuh, demi tegaknya
Islam sebagai Ustadziatul ‘alam...Allahu Akbar!!
Masih segar dalam ingatan, ketika gelombang itu menggulung rezim-rezim tak
bertanggung jawab. Negeri yang sejak dulu dininabobokan oleh
penguasa-penguasa dzolim nan biadab. Pejabat-pejabat yang semakin menggila
ingin menjadi konglomerat, sementara rakyat melarat dan negeri sekarat. Belum
lagi hutang-hutang yang dipikulkan kepada generasi-generasi kita mendatang.
Bah! Gelombang itu, pemuda-pemuda yang seolah terbangun dari tidur panjang
yang melenakan, mencoba bangkit dengan mengusung semangat perubahan.
Reformasi! Dulu, ketika aksi, pekikan takbir sang aktivis mampu menggetarkan
jiwa-jiwa yang mendengarnya, bahkan langit seolah bergemuruh dan bumi serasa
bergoncang. Tapi saat ini, pekikan takbir kita hanya membuat polisi-polisi
yang berjaga senyam-senyum menahan tawa. Ke mana perginya kekuatan ruhiyah
dalam gema takbir itu? Pekikan takbir yang keluar dari lisan-lisan yang basah
oleh dzikir hingga membuat musuh ketar-ketir. Takbir yang bersumber dari hati
yang bersih dan iman yang kokoh. Adakah yang salah dalam niatan kita? Apakah
kuantitas yang semakin bertambah saat ini begitu melenakan hingga kualitas
menjadi terabaikan?
Masih hangat dalam ingatan, saat aku menginjakkan kaki pertama kali di medan
juang ini. Sambutan mesra dari mereka yang menawarkan sebentuk cinta. Cinta
suci yang hanya dibingkai karenaNya. Cinta yang terikat karena adanya
kesamaan: satu aqidah, satu cita, dan satu tujuan. Merekalah yang
mengajarkanku indahnya jalinan persaudaraan. Tatkala ucap salam menjadi indah
terdengar. Senyum-senyum tulus yang merekah dari wajah-wajah bercahaya. Sapa
ramah yang terlontar dari mereka yang bersih hatinya...Ah, aku benar-benar
jatuh cinta pada mereka. Semoga Allah menjaga ukhuwah ini hingga ke
syurga_amien.
Masih melekat dalam ingatan, ketika mereka bercerita tentang manisnya
perjuangan dan indahnya pengorbanan. Tak hanya cerita bahagia bertabur suka,
atau kisah pilu mengharu biru, namun ada juga kisah hikmah nan lucu. Ketika
kakak-kakak pendahulu bercerita tentang betapa Agungnya Islam mengatur
batas-batas pergaulan demi menjaga izzah (kehormatan) manusia di hadapan
Allah dan makhlukNya. Kisah seorang akhwat yang ditinggal bicara sendiri
karena tak mengetahui bahwa si ikhwan telah pergi, namun tak ia sadari karena
mereka berbicara dengan saling memunggungi. Atau kisah seorang akhwat yang
terjatuh ke selokan demi menghindari ikhwan yang datang dari arah berlawanan.
Atau mungkin kisah seorang ikhwan yang kena “semprot” Murobbinya karena
mendapat laporan telah membiarkan seorang akhwat di pinggir jalan menarik
sepeda motornya yang mogok dengan kepayahan dan keletihan. Mungkin terkesan
konyol dan berlebihan. Ya, mereka memang keterlaluan! Tapi itu mereka lakukan
demi kehati-hatian. Tidak seperti interaksi ikhwan akhwat saat ini yang
kelewat akrab dengan berpendapat bahwa “menjaga pendangan belum tentu menjaga
hati”. Astaghfirullah... lalu apa makna dari perintah Allah dalam surah
An-Nur ayat 30-31 bagi mereka saat ini? Di mana posisi hijab itu kini?
Ya, akhir-akhir ini ingatan-ingatan itu berkelebat dalam benak, menari-nari
dalam otak, dan menyebabkan kerinduanku pada mereka yang dulu semakin
memuncak. Aku rindu ghiroh mereka. Aku rindu militansi mereka. Ya
Allah...hati ini sungguh merindukan semua itu...
Kala ku buka lembaran silam, untaian memori tertata rapi, sekotak kenangan
tergenggam erat, seiring waktu yang berjalan begitu cepat. Di sini, kita
merajut bingkai ketulusan, merangkai kebersamaan, dan indahnya sebuah
jalinan. Tak ada yang mesti ditangisi. Tak ada yang mesti disesali. Berpisah
tak mesti pergi. Karena namamu tetap bersarang di sini, di relung hati. Hanya
untaian maaf dan berbuket ucapan terimakasih yang terselip di sela-sela
do’a...Moga Allah mengumpulkan kita di jannahNya_amien..
Teriring lantunan nasyid yang mengalun dari dentingan hati...
Kehidupan bagaikan roda
Beribu zaman terus berputar
Namun satu tak akan pudar
Cahya Allah tetap membahana
Majulah sahabat mulya
Berpisah bukan akhir segalanya
Lepas jiwa terbang mengangkasa
Cita kita tetap satu jua
Cita kita tetap satu jua
(IZIS, Untukmu Syuhada)
aku sadar, rindu tinggallah rindu..
kini, aku harus bangkit dan menatap ke depan!
perjalanan masih terlalu panjang...
di sana, masih ada segelintir orang yang
masih memegang teguh prinsip-prinsip dan idealismenya
untuk tetap kembali pada asholah dakwah,
seperti pada awal-awal tarbiyah...
tak kalah meski tergerus masa..
tak goyah walau selangkah...
Let's Back To Asholah!!!!
Ikhwah fillah...Mari kita berlari menuju Allah,
memohon ampunan atas segala kesalahan,
memburu syurga dengan segenap pengorbanan..
meski air mata berderai-derai
meski peluh menganak-sungai
bergerak atau menggerakkan!!!
berkorban atau terkorbankan!!!
|
Entri Populer
Senin, 30 Januari 2012
Aku Rindu "Mereka yang Dulu
Langganan:
Postingan (Atom)