Entri Populer

Sabtu, 25 Februari 2012

Renungan Aktifis Dakwah


Kita Vs Palestina. .
mereka sdg menjemput seni kematian yang indah. .

Bagaimana dg kita??? T.T

Sabtu, 11 Februari 2012

10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an



Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat menyadari bahwa keluarga merupakan sasaran dakwah yang kedua; ishlahul usrah, setelah ishlahul fardi. Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini merupakan sebuah karya yang –seperti kata Ustadz Yusuf Mansur- akan menginspirasi banyak keluarga di tanah air. Ternyata membesarkan anak di masa sekarang untuk menjadi hafiz Al-Qur'an bukan sesuatu yang mustahil.

Buku ini adalah kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula danWirianingsih beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktifitas dakwahnya.Mutammimul Ula adalah anggota DPR RI dari fraksi PKS. SedangkanWirianingsih adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu adalah :

terselubung.blogspot.com


Anak Pertama (Sulung)

terselubung.blogspot.com

Afzalurahman Assalam
Putra pertama. Hafal Al-Qur'an pada usia 13 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai pesertaPertamina Youth Programme 2007.

Anak Kedua

terselubung.blogspot.com

Faris Jihady Hanifa
Putra kedua. Hafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat buku ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur'an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.

Anak Ketiga
terselubung.blogspot.com
Maryam Qonitat
Putri ketiga. Hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.

Anak Keempat
terselubung.blogspot.com
Scientia Afifah Taibah
Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur'an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.

Anak Kelima

terselubung.blogspot.com

Ahmad Rasikh 'Ilmi
Putra kelima. Saat buku ini ditulis hafal 15 juz Al-Qur'an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.

Anak Keenam

terselubung.blogspot.com

Ismail Ghulam Halim
Putra keenam. Saat buku ini ditulis hafal 13 juz Al-Qur'an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.

Anak Ketujuh

terselubung.blogspot.com

Yusuf Zaim Hakim
Putra ketujuh. Saat buku ini ditulis ia hafal 9 juz Al-Qur'an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

Anak Kedelapan

terselubung.blogspot.com

Muhammad Syaihul Basyir
Putra kedelapan. Saat buku ini ia duduk di MTs Darul Qur'an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur'an 30 juz pada saat kelas 6 SD.

Anak Kesembilan

terselubung.blogspot.com

Hadi Sabila Rosyad
Putra kesembilan. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.

Anak Kesepuluh (Bungsu)

terselubung.blogspot.com
Himmaty Muyassarah
Putri kesepuluh. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an.

Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini tidak hanya berisi bagaimana putra-putri Mutammimul Ula dan Wirianingsih menjadi penghafal Al-Qur'an. Di bagian pendahuluan terlebih dahulu dibahas Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman. Meliputi pembagian Al-Qur'an, Al-Qur'an sebagai Mukjizat, Sejarah Turunnya Al-Qur'an Kodifikasi Al-Qur'an, sampai Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur'an.

Pada bab 5 juga dibahas mengapa menjadi hafiz Al-Qur'an begitu penting. Penulis mengklasifikasikann ya menjadi 2 bagian: fadhail dunia dan fadhail akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifdzul Qur'an merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Qur'an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), keluarga Allah di muka bumi. Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur'an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orangtuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

Apa Kuncinya?
Apa kunci sukses keluarga Mutammimul Ula dan Wirianingsih mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu? Keseimbangan proses. Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib adalah jadwal mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Beberapa hal yang mendukung kesuksesan ini adalah upaya mereka menjaga kondisi ruhiyah dalam keluarga:
1. Tidak ada televisi di dalam rumah
2. Tidak ada gambar syubhat
3. Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan nasyid
4. Tidak ada perkataan yang fashiyah (kotor)

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an adalah visi dan konsep yang jelas, yakni menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur'an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah Shubuh dan setelah Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur'an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur'an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun kebanyakan di waktu kecil mereka merasa terpaksan, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur'an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur'an, mereka diberi hadiah.
sumber : Buku 10 bersaudara bintang Al-qur'an

Kamis, 09 Februari 2012

BeeOne LoveStory


Video buatkan tahun 2011 berikut adalah video yg sengaja dibuat untuk teman2 beeone kami tersayang..
Walaupun kelak ingin juga buat video paska kampus kami, moment2 silaturahim, moment2 walimahan, moment2 bersama mujahid-mujahidah mungil yg telah lahir, moment2 bertambahny keluarga beeone kami (Ahlan wa sahlan, D.A ^^), seru pasti ya..

Ukh, cuma mau bilang kalau aku sangat merindukan kalian, hingga air mata rasa - rasanya berhak jatuh ^__^

Sebagaimana di kutip dari majalah tarbawi edisi "Jadilah teman dekat yang tidak menyandera",  khalifah Umar Bin Khattab ra berkata, "Tidak ada nikmat yg paling indah selain mempunyai sahabat2 yg shalih"..

Terima kasih atas cintanya, I feel so loved.. :))



Rabu, 08 Februari 2012

Pecinta Bola Vs Pecinta Allah


Setiap kali bertemu, tak akan pernah lepas dari pembicaraannya untuk bercerita tentang bola pada saya. Saya kenal ia seorang pemain dan pecinta bola, dan seakan kecintaannya pada bola sudah begitu berakar dan mendarah daging dalam dirinya.
Kalau saya ke lapangan bola, atau melihat pertandingan bola pasti saya temukan disana Roy–bukan nama sebenarnya-sedang asyik bermain bola. Dan bila saya dari jauh melihat Roy, akan langsung muncul dalam benak saya tentang bola. Karena, disaat berjumpa dengan Roy ia selalu bercerita tentang bola. Dan prediket itu secara tidak langsung telah melekat pada diri Roy. Ia seakan telah menciptakan imej seorang pecinta bola pada dirinya. Sehingga kalau orang melihat pada Roy, orang pasti akaningat pada bola.
Lain halnya pemuda sederhana, murah senyum, penyapa, tawadhu dan soleh. Namanya Rofiq, seorang teman saya dari Bangladesh, tinggal di Asrama Mahasiswa Al-Azhar, ia saat ini sedang menempuh program studi S3-nya di Al-Azhar.
Setiap kali saya bertatap muka dengan Rofiq membuat saya ingat pada Allah dan akhirat. Rofiq adalah pecinta Allah. Setiap kali bertemu dengannya ia selalu berbicara tentang Allah, nikmat Allah, kasih sayang Allah pada makhluk-Nya, rahmat-Nya dan karunia-Nya. Setiap kali berhadapan dengannya ia sanggup menggetarkan hati saya tentang Allah dan tentang akhirat. Sehingga hati saya terkadang dirundung kerinduan yang mendalam untuk berjumpa dengan Allah karena kata-katanya. Keimanan saya banyak bertambah dengan taushiah yang ia berikan, sehingga ketika saya lagi futur dalam beribadah, dengan hanya berjumpa dengan Rofiq sudah cukup membangkitkan dorongan dalam diri saya untuk kembali bersemangat.
Hal ini tidak hanya saya yang merasakan tapi teman-teman yang kenal dekat dengan Rofiq juga merasakan seperti yang saya rasakan.
Roy dan Rofiq adalah penggambaran tentang dua manusia yang berbeda. Roy menciptakan imej tentang dirinya bahwa ia pecinta bola, sehingga kemanapun ia pergi selalu ngobrol tentang bola yang paling ia gemari tersebut. Tidak hanya ia tunjukan dengan kata-kata tapi juga sikap, seperti model rambut, pakaian yang sering ia pakai, poster-poster yang menghiasi kamarnya, buku-buku dan bahkan isi komputernya.
Adapun Rofiq juga telah menciptakan imej tentang dirinya bahwa ia pecinta Allah dan akhirat. Setiap kali berjumpa dengan orang lain, siapapun dan dimanapun ia selalu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bercerita tentang Allah dan akhirat. Sehingga siapapun yang bertatap muka dengan Rofiq secara tidak langsung membuatnya ingat pada Allah dan akhirat.
Rofiq telah memenuhi hati dan pikirannya dengan Allah, Dzat yang maha kekal. Wajahnya penuh cinta dan cahaya, air mukanya jernih, senyumnya menggetarkan, tatapannya memberi kekuatan, kata-katanya begitu sanggup menggiring hati untuk terpikat dan akhlaknya begitu mempesona hati.
Sungguh disayangkan keadaan orang-orang yang mengisi hati dan pikirannya dengan selain Allah. Sehingga kemanapun mereka pergi hal itu yang selalu mereka bicarakan. Mereka yang sibuk dengan kesenangan dunia, materi, popularitas dan lainnya, sehingga seakan tidak ada tempat dalam hati mereka untuk mengingat Allah. Bagaimanakah keadaan orang-orang tersebut ketika ajal datang menjemput mereka? Bukankah ketika seseorang sedang dalam sakaratul maut akan mengatakan apa yang selalu ia cintai, pikirkan dan lakukan selama ia hidup di dunia.
Begitu banyak kisah-kisah yang kita baca dan kejadian yang kita dengar dan mungkin kita saksikan langsung tentang bagaimana keadaan orang-orang dalam menghadapi sakaratul maut. Ada yang meninggal sambil menyebut nama pacar yang sangat dicintainya, meninggal seperti sedang menghitung uang, atau meninggal dalam keadaan mata terbelalak, menjerit histeris, bernyanyi dan lainnya.
Adapun mereka yang selama hidup di dunia memenuhi hatinya dengan cinta Allah dan beramal soleh, alangkah bahagianya saat ajal datang, ia begitu fashih dan mudah mengucap kalimat syahadah yang keluar dari hatinya. Karena ketika ia hidup didunia, hati dan pikirannya selalu ia penuhi dengan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya dan banyak beramal soleh.
Tidak ada salahnya bermain bola, mencari penghidupan dunia, berdagang, menikah, punya anak, mencintai anak dan istri, berbisnis dan lainnya, namun yang salah adalah ketika hal itu lebih kita cintai dan utamakan dari Allah dan ketika hal itu membuat kita lalai dari mengingat Allah.
Firman Allah : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. ” (Al Baqarah : 165 )
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk setia mencintai-Nya sampai ajal datang menjemput, amin.
Wallâhu a`lam  sumber :era muslim

goes to S2. ..

http://www.iptij-japan.com/?p=425

Belajar kepatuhan dari bangsa jepang


Beberapa waktu lalu, Jepang, negara maju dengan kemampuan teknologi yang tinggi ditimpa musibah besar berupa gempa bumi dan tsunami. Meski pemerintah dan segenap ilmuwannya telah memprediksi bakal terjadinya gempa bahkan telah mempersiapkan kemungkinan terjadinya tsunami besar dengan membangun tembok-tembok besar di sekitar pantai, tetap saja korban yang jatuh sangat besar, diperkirakan mencapai 27 ribu orang.
Gempa dan tsunami yang besar ini disusul dengan rusaknya salah satu sumber energi utama Jepang, yakni reaktor nuklir di Fukushima. Akibatnya, berkurangnya pasokan listrik dan menyebarnya radiasi menjadi hal yang menghantui hingga hari ini.
Tanpa mengurangi rasa simpati dan peduli kita pada masyarakat Jepang yang menjadi korban, ternyata kita dapat mengambil banyak pelajaran dari musibah besar yang terjadi ini. Salah satunya adalah bagaimana rakyat Jepang merespon mushibah ini dan bagaimana mereka bersikap terhadap pemerintahnya.
Salah satu hal yang sangat mengesankan dari rakyat Jepang yang saya amati adalah tingkat kepatuhan mereka kepada pimpinan dan pemerintahnya. Profesor Yamamoto Nobuto, dari Keio University, mengatakan:“pemerintah Jepang sebenarnya tak siap dan terlambat mengatasi bencana ini. Penyaluran bantuan kurang baik. Sepekan setelah bencana, distribusi bantuan masih tersendat. Namun, warga Jepang di pengungsian sangat kuat dan tidak mengeluh. Mereka yakin bahwa bantuan pemerintah akan segera datang dan mereka tidak perlu melakukan protes-protes justru sebaliknya mereka sangat mematuhi kepala-kepala di camp-camp pengungsian”.
Pernyataan Yamamoto tersebut dibenarkan oleh teman-teman yang datang langsung ke lokasi pengungsian untuk memberikan bantuan. Sampai-sampai teman saya yang datang ke tempat-tempat pengungsian mengatakan, “lebih enak jadi pengungsi di Indonesia, waktu saya membantu pengungsi di Jogja, pengungsi protes karena setiap hari dikasih makanan yang sama, sementara di jepang, pengungsi menerima dengan senang hati apapun yang diberikan oleh kepala pengungsian, meski yang diberikan adalah makanan yang sama setiap hari”.
Kepatuhan masyarakat Jepang tidak hanya ditunjukkan di tenda-tenda pengungsian, tapi juga oleh masyarakat yang relatif jauh dari pusat bencana seperti di Tokyo. Saat pasokan energi berkurang akibat rusaknya reaktor nuklir, pemerintah menghimbau masyarakat Tokyo untuk melakukan penghematan listrik. Himbauan ini langsung berefek. Misalnya di kampus-kampus yang biasanya terang benderang bahkan nyaris 24 jam, saat ini tampak redup tanpa mengurangi aktivitas sama sekali.
Di stasiun, di gedung-gendung pemerintah, dan di pusat-pusat perbelanjaan elevator berhenti berjalan. Bahkan toko-toko, yang notabe adalah entitas bisnis yang biasanya hanya mementingkan keuntungan sendiri, dengan patuh melaksanakan himbauan tersebut, malah sebagian besar mini-market menutup toko mereka setelah jam 6 sore demi penghematan listrik nasional.
Mengapa masyarakat Jepang bisa begitu patuh kepada pemerintahnya? Sebaliknya, mengapa masyarakat di negara-negara muslim seperti Indonesia cenderung kurang patuh pada pemerintahnya? Padahal Allah swt telah memerintahkan ummat Islam untuk patuh pada pemimpin-pemimpin mereka.
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah) jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”. (QS. An Nisa’: 59)
Jika kita melihat kepatuhan masyarakat Jepang saat ini, sesungguhnya hal tersebut bukanlah hasil dari proses satu hari dua hari. Struktur kepatuhan di Jepang dibangun atas dasar trust atas dasar kepercayaan kepada otoritas. Pada kenyataannya memang pemegang otoritas mampu membangun kepercayaan itu dimata publik dengan baik.
Pemerintah Jepang membangun struktur kepatuhan berdasarkan kefahaman dan kepercayaan. Mereka mendidik warganya, membangun kefahaman dan membangkitkan kepercayaan warganya dengan menunjukkan prilaku keseharian yang sangat meyakinkan.
Contoh sederhana misalnya, setiap pagi ada ramalan cuaca dan itu sangat dipercaya oleh warga karena tingkat akurasinya. Kalau kita melihat orang-orang Jepang membawa payung padahal hari terlihat cerah, jangan heran, karena pada hari itu pasti akan terjadi hujan. Dan terbukti memang benar, meski paginya tampak cerah, siangnya turun hujan.
Contoh lain, pada pelayanan transportasi seperti kereta atau bis misalnya. Pengelola mampu meyakinkan penumpang bahwa mereka kredibel dan layak dipercaya. Jika di jadwal kereta tertulis kereta akan datang pukul 12.00, maka bisa dipastikan kereta akan datang tepat pada waktunya dan tidak akan meleset walau satu menitpun, kecuali ada kejadian luar biasa seperti gempa bumi atau ada penumpang yang bunuh diri.
Dalam pelayanan birokrasi, pemerintah jepang juga menunjukkan tingkat akurasi yang layak dipercaya. Jika kita mengurus suatu surat, kemudian petugas bilang, surat akan selesai dalam dua hari dan biayanya 200yen. Maka keesokan harinya saat kita datang surat itu sudah pasti jadi dan kita tinggal membayar sesuai angka yang ditunjukukkan, tidak kurang tidak lebih. Pemerintahan yang kredibel karena dilandasi sikap amanah seperti ini sesungguhnya layak memperoleh ketaatan dan loyalitas dari rakyatnya.
Bandingkan dengan birokrasi kita? Sulit membangun kepatuhan atas dasar kepercayaan, karena rakyat sudah terlanjur kurang trust, sehingga cara terbaik untuk memperoleh kepatuhan adalah dengan ancaman. Hal ini yang terjadi pada Indonesia di era orde baru, dimana struktur kepatuhan dibangun atas dasar ancaman. Rakyat patuh karena mereka takut bukan karena percaya. Demikian pula yang terjadi di timur tengah selama berpuluh-puluh tahun. Para penguasa tiran menjadikan militer dan kepolisian sebagai alat untuk menindas dan menakut-nakuti rakyatnya. Mereka tidak segan menyiksa bahkan membunuh rakyatnya yang tidak patuh. Rakyat benar-benar dibuat ketakutan.
Cara berkuasa seperti ini sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Alqur`an telah menceritakan kisah tentang firaun dengan kekejamannya. tapi apa yang terjadi dengan cara berkuasa yang seperti ini? sejarah mencatat bahkan hari-hari ini kita menjadi saksi sejarah bahwa pemimpin yang membangun struktur kepatuhan dengan ancaman akan terguling dengan penuh kehinaan. Ketika rakyat memiliki keberanian, ketika rakyat memiliki energi baru untuk melakukan perlawanan, maka kedahsyatannya akan menggilas rezim tiran.
Di Indonesia, meski telah terjadi reformasi, namun sampai hari ini pun kita masih menyaksikan betapa banyak organisasi yang membangun struktur kepatuhan berdasarkan ancaman. Dalam organisasi bisnis misalnya, kita menemukan banyak manajer-manajer yang berusaha menakut-nakuti bawahannya hanya agar perintahnya didengar dan diikuti. Disekolah, kepala sekolah menakut-nakuti gurunya dan guru menakut-nakuti muridnya hanya demi mendapatkan kepatuhan.
Dalam organisasi politik, hal ini juga mudah kita jumpai. Para pemimpin politik seringkali menggunakan ancaman pemecatan kepada kader-kadernya yang tidak patuh pada pimpinan. Kader dipecat bukan karena melakukan kesalahan, tapi karena dianggap tidak memiliki “kepatuhan”, sementara mereka yang “patuh” akan tetap dipertahankan meski memiliki kesalahan fatal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kepartaian yang telah ditetapkan. Dalam koalisi politik nasional, partai berkuasa merasa punya kuasa menentukan segala dimana partai-partai lain yang sesama anggota dipaksa mematuhinya dengan ancaman pemecatan dari koalisi digusurnya kursi menteri.
Membangun struktur kepatuhan dengan model ancaman yang seperti ini sesungguhnya hanya afektif bagi kelompok tertentu yang tidak memiliki cukup pengetahuan atas apa yang terjadi, atau bagi mereka yang tidak memiliki keberanian untuk bersikap mandiri, atau bagi mereka yang merasa tidak memiliki alternatif pilihan organisasi. Tapi bagi pribadi-pribadi yang teguh memegang prinsip diatas pengetahuan yang jelas akan kebenaran yang dipegang, ancaman hanya akan dianggapnya sebagai ujian dalam perjuangan yang tidak akan menggoyahkan sikapnya pada kebenaran yang dipegang.
Stuktur kepatuhan yang berdasarkan kefahaman dan kepercayaan harus dibangun secara timbal balik, dimana rakyat tidak bisa hanya menjadi objek yang wajib patuh pada pimpinan. Adalah kewajiban rakyat untuk mematuhi pemimpin mereka, tapi pada saat yang sama, adalah kewajiban pemimpin untuk mebangun kepercayaan, menyatukan kata dan perbuatan, menyatukan janji dan realisasi, sehingga layak dipercaya, diteladani dan dipatuhi. Allah swt telah menegaskan bahwa seorang pemimpin, selain berhak untuk memperoleh kepatuhan dari rakyatnya, mereka juga memiliki kewajiban untuk berlaku adil dan amanah sehingga rakyat bisa meneladani dan mematuhi mereka.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa’: 58).
Mudah-mudahan kita bisa mendidik generasi bangsa ini menjadi generasi baru yang layak untuk dipercaya karena satunya kata dan perbuatan. Amin

Maaf bila aku mengeluh


Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja tampan dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.

Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.


(Embun Taushiyah)

*Aku sangat suka tulisan ini, yang di copas dari seorang ikhwah AKA

Jiwa yang baik. .


Bismillah,
Hari Pertama di lingkaran kecil yang baru ^__^
Saat itu, aku sedang asyik mendengarkannya di sabtu pagi. .
saat suara murabbi melantun halus, merangkai kata-kata seindah mutiara. .
ia menyampaikan sebuah hadist yg sangat indah. .
kira - kira seperti ini :



"tidak mengapa kekayaan bagi orang yang bertakwa pada Allah, tapi kesehatan bagi orang yang bertakwa adalah lebih baik daripada kekayaan dan jiwa yang baik termasuk nikmat yang paling besar (HR.Bukhari).

itulah hadist yang kuingat saat aku benar2 sdg merasa di ujung bumi yg paling bawah. .
Merasakn sedih yg berkepanjangan. .
di sergap rasa takut. .
Juga sepi.. 
ya, di saat itulah aku terus mencari-cari tentang apa itu "bahagia". . 

hai, diri. . . 
kalian tahu, saat itulah kau baru memahami hakikat kebahagiaan. . 

kebahagiaan adalah Jiwa Yang Baik. . 
jadi,
bukan karena kau menangis kau tidak bahagia. .
bukan karena merasakan sakit kau tidak bahagia. .

dan 
bukan karena kau mendapatkan sesuatu yg kau inginkan, lalu kau bahagia. .
bukan karena kau sempurna lantas kau sangat bahagia. . 

tp karena kau pnya jiwa yang baik lantas kau bahagia. . selamanya, di dunia juga di akhirat. .

seperti kata murabbiyah kota hujan . .
Ukh. . 
bukan karena hari ini indah lantas kau bahagia, Tapi karena kita bahagia lantas hari ini jadi indah. .

Sedang kata ustadz salim :
Bahagia adalah Saat hati, lisan, dan perbuatan menarikan kebenaran dan kebaikan dalam selarasnya irama. Tak satupun yang sumbang. Bahagia adalah Masa lalumu tak membelenggu, masa depanmu tak menghantu, masa kinimu terisi puncak karya yang kau bisa. Bahagia adalah Menjadi karang yang ridha ditumbuhi lumut, lalu keangkuhannya remuk menjadi butiran hara yang menyuburkan bumi

Berbahagialah ^__^