Entri Populer

Selasa, 13 Maret 2012

“Cermin Yang Tak Berkata”


Ada yang bersinar di sudut sebelah  sana. .
Ku coba dekati. .
Berjalan perlahan – lahan hingga tiba persis di depannya. .
Ia hanya cermin yang bening. .

Aku termenung. .
Ku dapati diriku pada pantulannya yang cemerlang. .
Aku memandang dan terus memandang. .
Inikah  aku??

Sayang seribu sayang. .
Ia tak bisa memperlihatkan bagaimana niat, hati dan jiwa. .
Ia hanya cermin yang memantulkan apa yang terlihat dari luar. .
Tidak apa yang ada di dalam. .
Tidak niat. .
Tidak hati. .
Tidak juga jiwa. .
==========================================================================
Mari petik hikmah dari cerita seorang Umar bin Khattab
Suatu ketika beliau mengejar-ngejar seorang sahabat yang diamanahi daftar orang munafik oleh Rasulullah SAW untuk memastikan agar belaiu tidak termasuk orang munafik. Dirinya takut sikap nifaq itu melekat padanya. Saat Nabi menyebutkan secara rahasia nama-nama orang munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman, timbul kegelisahan pada diri Umar. Jiwanya merasa tidak tenang. Khawatir namanya termasuk dalam deretan orang-orang munafik yang disebutkan Rasulullah. Maka, untuk mengusir rasa gelisah di hati, menepis kekhawatiran yang bersemi, dan menambah ketenangan hati, Umar menanyakan langsung kepada Hudzaifah ibnul Yaman. Umar berkata : “Wahai Hudzaifah, semoga Allah memuliakanmu, Apakah Rasulullah menyebutkan namaku kepadamu bersama nama-nama orang munafik?” Jawab Hudzaifah: “Tidak, Tidak ada (nama) seorang pun yang terbersihkan setelah (nama)mu.” Apa yang diperbuat Umar adalah guna menambah ketenangan dirinya. Padahal sungguh Nabi  telah mempersaksikan bahwa dia termasuk sahabat yang mendapatkan jannah (surga). (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 76, Thariqul Hijratain, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 504).
            Lalu bagaimana dengan kita?? Yang tak sama sekali dipersaksikan oleh rasulullah bahwa akan masuk syurga. Yang niatnya mudah sekali bengkok. Yang hatinya mudah sekali di hinggapi penyakit. Boleh saja kita tiap hari bercermin, melihat tampilan luar kita dan kurang memperhatikan bagaimana niat, hati dan jiwa. Karena sejatinya cermin itu tak dapat berkata bagaimana keadaan dalam diri kita.
            Hai kau diri, yang katanya tiap hari beraktifitas mengatasnamakan menyeru pada kebaikan di jalanNya. .
Pernah kau tanyakan pada hati? Apakah aktifitasmu sungguh karena Allah. Pernahkan kau bertanya pada hati? Apakah kau menghafal al-qur’an sungguh karena Allah? Atau karena ingin di puji karena punya banyak hafalan. Pernahkah kau bertanya pada hati? Untuk apa bertausiyah? Apakah hanya supaya orang-orang bilang bertsaqofah banyak. Pernahkah kau tanyakan pada hati? Apakah diri telah mengidap penyakit riya’. Pernahkan kau tanyakan pada hati? Apakah melakukan kebaikan semata – mata karena pandangan manusia? Bukan karena Allah. Dan coba tanyakan baik – baik pada hati, apakah diri ini telah masuk dalam katagori munafik? Dan berkhianat pada Allah?.
Mari simak kisah shahabat Abu Ad-darda’ ra dan seorang guru abul waqt.
            Suatu ketika, Jubair ibn Nufair mendengarkan do’a yang diucapkan oleh shahabat mulia Abu ad-Darda’ ra. di akhir shalatnya. Anda tahu do’a apa yang beliau panjatkan? ‘Audzubillahi minan nifaq (Aku berlindung kepada ALLAH dari sifat munafik). Ya, seorang sahabat seperti Abu ad-Darda’ begitu takut terhadap kemunafikan. Itulah sebabnya, -masih menurut penuturan Jubair ibn Nufair- beliau mengulang-ulangi do’a itu.
“Duhai tuan, ada apa antara Anda dengan kemunafikan?” tanya Jubair kepadanya.
“Demi ALLAH! Sesungguhnya seseorang itu dapat berubah-ubah dan berbolak-balik agamanya dalam satu jam, hingga akhirnya agama itu tercabut darinya!” jawab Abu ad-Darda’
Seorang ‘alim bernama Yusuf ibn Ahmad Asy-Syairazy mengisahkan tentang salah seorang gurunya yang dikenal dengan Abul Waqt. Sang guru ini dikenal sebagai salah satu ahli hadits yang telah melakukan pengembaraan panjang untuk menyelami hadits-hadits Rasulullah saw. Ia bahkan digelari sebagai ruhlah ad-dunya (sang pengembara dunia). Simaklah penuturan Yusuf Asy-Syairazy tentang gurunya yang satu ini:

“… ALLAH akhirnya menakdirkan aku bertemu dengan beliau di negeri bernama Kirman. Saat aku pertama berjumpa, kuucapkan salam kepadanya lalu aku mencium (kepala atau pundak)nya. Kemudian aku duduk bersimpuh di hadapan beliau. Tidak berapa lama kemudian, beliau bertanya kepadaku: “Apa yang membuatmu datang ke negeri ini?” Aku menjawab: “Engkaulah yang menjadi maksudku, Tuanlah sandaranku setelah ALLAH Ta’ala, aku telah menulis hadits-hadits yang engkau riwayatkan dengan penaku, namun aku tetap berusaha menemui Tuan dengan kedua kakiku agar aku bisa mendapatkan keberkahan nafas-nafas Tuan dan mendapat sanad Tuan yang lebih tinggi.” Beliau kemudian berkata: “Semoga ALLAH memberikan taufiq dan keridhaan kepadku dan kepadamu. Semoga Ia menjadikan segala upaya kita adalah karena-NYA. Semoga Ia menjadikan tujuan kita hanyalah pada-NYA. Duhai, seandainya saja engkau mengetahui aku dengan sebenar-benarnya, niscaya engkau tidak akan mau mengucapkan salam padaku. Niscaya engkau tidak akan sudi duduk di hadapanku…”
Beliaupun menangis. Lama sekali. Hingga membuat semua yang hadirpun turut menangis. Lalu beliau melanjutkan ucapannya, “Ya ALLAH! Tutupilah aib-aib kami dengan perlindungan-MU yang Maha Indah, dan jadikanlah apa yang ada di bawah perlindungan-MU itu sesuatu yang Engkau ridhai untuk kami…”
‘Audzubillahi minan nifaq, Aku berlindung kepada Allah dari sifat munafik. Begitulah sekiranya kita meminta kepada Allah agar terhindar dari kemunafikan. Karena sejatinya manusia itu di berikan dua jalan oleh Allah yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan, jalan ketaqwaan dan jalan kedurhakaan.
 Maka kami (Allah) telah memberikan petunjuk (kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (jalan kebaikan dan keburukan). (QS. Al-Balad : 10)
Dan demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan ketakwaan (QS. Asy-Syams ; 7-8)
Sunnatullahnya kita berdiri diantara dua jalan, terkadang jalan yang sedang kita tempuh sesuai dengan koridornya  yaitu berada di jalan kebaikan dan lebih sering keluar dari koridornya yaitu pada jalan keburukan. Periksa lagi jalur kita berdiri apakah tetap pada jalan yang lurus? Atau tanpa sadar kita sudah terjebak pada jalan keburukan seiring dengan berbeloknya orientasi niat.
Mari pandai – pandai menginsyafi kadar diri, karena boleh jadi orang lain menganggap kita baik tapi tidak di hadapan Allah. Karena sejatinya Cermin itu tak dapat berkata tentang apa – apa yang ada pada dalam diri kita. .

‘Audzubillahi minan nifaq. .
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi showab.  

Jumat, 09 Maret 2012

Bila Tirai Itu Telah Terbuka



Di suatu sore di hari hujan, ada seorang Al – ukh yang sedang bersandar pada dinding putih di sebuah lorong yang memanjang, sebuah mushaf hitam yang sedang ia pegang terbuka sedangkan matanya seakan tak fokus pada mushafnya, sesekali ia menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia menunduk membaca Kitab Al-Qur’an dengan mata yang berkaca – kaca dan mulai larut pada surat cinta Rabbnya. Butir – butir air mata Kristal jatuh dari kedua ujung matanya.. Ia masih tetap menunggu seseorang yang tak kunjung datang itu. Akhirnya seorang teman mendekatinya.
“Assalamu’alaikum ukh, sedang apa?? Kok sendirian aja?” Sapanya
“wa’alaikumusalam, sedang menunggu seseorang ukh, tapi sepertinya ia tak datang”. Tuturnya dengan wajah sedih.
Setelahnya ia memeluk temannya begitu erat, dan Al-ukh menangis sesegukan.
Sang teman membalas pelukannya lebih erat dalam diamnya. Rupanya sang teman sudah mengetahui sebab kegundahan saudarinya. Sebuah fitnah, berpuluh-puluhan justifikasi serta sikap tak bersahabat orang – orang di sekitar Al-ukh ini lah yang membuatnya tak tega. Hanya karena ia melakukan setitik kesalahan. Ibarat kertas putih yang di goreskan sebuah titik hitam oleh pena, maka semua orang akan melihat kearah titik hitam itu bukan ke bagian putihnya.
Sang teman menghiburnya dengan berkata “Ukh bersabarlah, suatu hari ketika Allah membukakan tirai atas mu, maka saat itu juga mereka akan meminta maaf kepadamu dengan hati yang sangat bersalah, karena begitu banyak kebaikanmu yang tersembunyi itu tak mampu dihapuskan hanya dengan setitik kesalahan yang pada awalnya adalah maksud baikmu kepada mereka. Sambil memeluk Al-ukh lebih erat.
========================================================================

Pandangan mata selalu menipu. .
Pandangan akal selalu tersalah. .
Pandangan nafsu selalu melulu. .
Pandangan hati itu yang hakiki. .
Kalau hati itu bersih. .

Hati kalau selalu bersih. .
Pandangannya akan menembus hijab. .
Hati jika sudah bersih. .
Firasatnya tepat karena Allah. .

Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .
Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .

Hati tempat jatuhnya pandangan Allah. .
Jasad lahir tumpuan manusia. .
Utamakanlah pandangan Allah
Dari pada pandangan manusia. .

(Snada, Pandangan Mata)

Begitu banyak keterbatasan manusia, hingga dengan mudah ia menjustifikasi seseorang itu baik atau buruk. Padahal, hanya panca indra tumpuan mereka.  
Dalam sebuah hadits di katakan:
 "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu." (H.R. Muslim).
Al Qurtubi berkata, "Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.
Alangkah lebih bijak bila manusia melibatkan hatinya dalam berkehidupan di dunia. karena hati yang bersih itu dapat  membuka tirai – tirai yang menutupi atas sesuatu. Sehingga firasatnya tepat karena Allah. Tentunya bila hati itu bersih, apa yang tersampaikan adalah kebenaran. Bila hati itu bersih maka yang tersampaikan adalah kesantunan bahasa sehingga tak menggoreskan luka di hati saudarinya.

Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan senang kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam "Assalaamu'alaikum", timbul dari hati yang ikhlas, insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.

"Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar." (H.R.Bukhari dan Muslim)

Sejatinya dalam sebuah hati itu terdapat sebuah awan seperti yang dikatakan hadits tersebut. Ada saatnya ia tertutup awan  dan ada kalanya ia bercahaya. Maka hati yang bersih senantiasa akan bersinar dengan cahaya itu, sinarnya akan menerangi akhlakmu dan menerangi tiap langkahmu.
Namun, Hati itu mudah terbolak-balik, semudah kita membalikan telapak tangan, mungkin lebih mudah dari itu. Maka berdo’alah kepada Allah Sang Maha Pembolak – Balik Hati Manusia,agar senantiasa hatinya dibalikan kearah kebaikan.  Agar Allah membukakan tirai – tirai yang menutupi atas suatu perkara, sehingga yang kita lihat adalah kebenaran.

"Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, "Wahai ibu orang-orang yang beriman, do'a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?" Ia menjawab: "Do'a yang banyak diucapkannya ialah, 'Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu)." " Ummu Salamah melanjutkan, "Aku pernah bertanya juga, "Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do'a: "Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinika." Beliau menjawab: "Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan." (H.R.Ahmad dan Tirmidzi)


Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi showab. 

Rabu, 07 Maret 2012

Mereka Bercerita Tentang "Spesialnya Mentoring" :))

Apa sih spesialnya mentoring??
Check it out !!

Ilham Surya Hadi
(Menko KP BEM AKA Bogor '10-11, Koor BEM Se-Bogor '10-11 & Staff  Politik KAMMI Bogor)




Ahmad Andhira (Koor Kbing PPSP '10 & Koor PSDM LDK KMA '10)


Abdul Rasid (Wakil Presma Aka Bogor '11-12)



Jadi bagaimana dengan mu?? ^__^

21 lebah Versi Kampus ^^v



Akhwat… 
akhwat yang tangguh
Itu yang kuharap ada padaku
Agar… agar diriku bisa melumpuhkan kemaksiatanku…
Ajari aku tuk jadi akhwat yang tangguh
Mungkin terlalu lama aku tlah bersembunyi
Menatap maksiatpun aku tak mampu
Di persembunyian aku berdzikir
Di persembunyian aku berdzikir
Akhwat yang tangguh!!! (nyanyi dulu lah sebelum mulai, hihi ^^)

hmhmhm, yuk mulaiiii!!!
Kisah ini dimulai saat krisis ukhuwah melanda di sebuah kampus Akademi Kebanyakan Akhwat, ^^. Para kadernya lesu, salam dan sapaan terasa hambar bahkan ketika jabatan tangan itu terasa sangat menyakitkan. 
saya jadi mengingat sebuah hadist yang berbunyi :
“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan) gugurlah dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dan pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut” (H.R. Tabrani)

Masya Alloh. .
Pokoknya melihat kondisinya juga jadi sungguh tak tega, tak tega, tak tega. Virus - virus ukhuwah menyerbu menggunakan senjata - senjata modern, tapi iman tak kunjung melakukan gencatan senjata (*kebanyakan nonton film perang nihh). walhasil, kampus jadi suram banget, auranya itu lho jadi kelabu, oh noooooo!!!!
Sebenernya sih agak bingung, kenapa ya akhwat tuh paling sering punya masalah internal yang berefek ke ukhuwah mereka, apa karena kebanyakan pake perasaan kali ya?????
padahal ikhwannya baik - baik saja. secara ikhwan mah mau ada masalah internal juga tetap aja jalan dakwahnya. 
tapi klo akhwat, jadi agak - agak gimana gitu.. 
hm Perasaan VS Logika, memang berbeda.. 


Akhirnya, tak tahan melihat ini, si akhwat "21 Lebah" yang bentar lagi mau lengser ikut-ikutan tanah longsor (Haduh, bercanda mulu nih). lanjut!!!, ya, akhirnya 21 lebah kampus berkongkalikong untuk mencarikan solusi supaya kampus tercinta yang lagi suram auranya bisa berubah menjadi berseri - seri (Biar lebih hidup gitu auranya). hm, setelah berdiskusi yah sekitar 1,5 jam-an dapat juga keputusannya. berhubung sedang bulan puasa, pas banget momentnya untuk mengumpulkan para jilbabers.


Menuju hari H :
akhwat - akhwat pada rempong (*ribet gitu lah maksudnya), semua akhwat jadi seksi sibuk (soalnya ga ada susunan panitia yang benernya, maklum dadakan acaranya). walaupun sedang pada ngurus Laporan Tugas Akhirnya bahkan masih ada yang sedang PKL, tapi di bela-belain, demi  adik tingkat kecintaan kami..
Yang ke pasar mah kepasar (Beli bahan buat ifthor)..
Yang bagian ngundang adik-adik mah lagi asyik bikin jarkoman surat cinta..
yang ngurusin tempat mah lagi kebingungan..
Yang konsumsi mah lagi sibuk masak. .
Ruar biasa, si lebah2 ini..

Teng tong. . .
Hari H :
Pengumuman :
di cari. .
di cari. .
Ikhwan yang punya motor harap meminjamkan motornya selama satu hari (demi kesejahteraan akhwat,hihi)

Jrenggg, akhirnya motor berjejer tinggal di pilih mau naik matic atau yang pake gigi, atau mau yang pake kopling, tafadhol. . .

"Saya mau cerita yang bagian disini nih, karena ini yang paling seru"
Terjadilah puncak kerempongan akhwat.
Ukh, panci yang mau di pakai untuk sop buah yang mana?
Ukh, galon yang mau di bawa yang mana?
Ukh, kunci motor mana?
Ukh, ukh A kemana?
Ukh, udah berapa orang yang konfirmasi??
Ukh, cepet ukh. . 

akhirnya kami berangkat, naik motor dengan bawaan super banyak, ada yang satu motor bawa panci plus galon, kayak orang mau camping berapa hari aj. .
konvoy nya akhwat yang pada bawa barang - barang itu membuat saya pengen geleng2 kepala, lucu soalnya..

saat itu bisa dibayangkan seperti apa ribetnya, -.-
Tapi terima kasih dear 21 lebah..
keikhlashan mereka itu sungguh tiada tara. . 
semua dilakukan tanpa beban, bahkan kita mengurai ceria, mengurai tawa. .
inilah nikmatnya, sungguh luar biasa, aku pun sangat rindu hari - hari itu. . :')

Acaranya pun dimulai dengan hikmat dan berakhir dengan mata yang merah dan berkaca. .

Duhai sobat,
Seperti yang di tuliskan Ust. Salim A. Fillah :

ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku tahu, ukhuwah tak perlu diperjuangkan. .
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman. .
aku ingat pertemuan pertama kita, saudariku. .
dalam dua detik, dua detik saja. .
aku telah merasakan perkenalan. .
bahkan kesepakatan itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat. .
meski pun belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat. .
ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan. .
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh. .
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan. .
saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai. .
aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita. .
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit. .
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. .
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping. .
kubaca firman persaudaraan itu, saudariku. .
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain ditegaskan :
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
kecuali orang-orang yang bertaqwa”
-Salim A. Fillah-

Duhai, saudariku . .
Cintailah saudarimu sebagaimana kamu mencintai dirimu dan mencintai keluargamu. .

Duhai, saudariku. .
Ukhuwah kita pun pernah di uji. .
Ketika perpisahan menjemput, "Buah Ujian" terbayar dengan rindu. .
maukah kalian bertetangga denganku di syurgaNya???
Sungguh diri ini mencintai kalian karenaNya.
Selalu merasakan rindu yang tak terbendung di kala Do'a Rabithah terlantun pelan. .
ya. . Semoga kelak dipertemukan lagi di syurgaNya.


“Sesungguhnya, di sekitar ‘Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya.
Di atasnya suatu kaum yang pakaian dan wajahnya bercahaya.
Mereka bukan para nabi, juga bukan para Syuhada. Mereka dikelilingi para nabi dan para syuhada itu.
Bertanyalah para para sahabat kepada rasulullah; ‘Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka itu kepada kami’
Rasulullah SAW menjawab: ‘
“Mereka adalah orang-orang yang saling mengasihi di jalan Allah,
mereka duduk-duduk berdampingan karena Allah,
dan mereka adalah orang-orang yang kunjung mengunjungi karena Allah…”
(HR Nasai)

Selasa, 06 Maret 2012

“Kuncup Bunga Peradaban, Indonesiaku”


Mari tengok sejenak keadaan bumi kita , atau tak perlu jauh – jauh, tengok saja negeri kita ini, lalu renungkan bagaimana keadaannya?? Baik kah? Atau malah bobrok?? kerusakan telah menyebar luar oleh tangan – tangan manusia tak bertanggung jawab, sampai moral pun telah rusak.


Lalu siapa yang bertanggung jawab???


Tahu kah anda bahwa ada campur tangan orang – orang kafir dalam kerusakan negeri kita tercinta ini?? Sesungguhnya negeri kita ini sedang berperang, sebuah perang yang melemahkan iman bahkan aqidah, perang itu namanya ghazwul fikri.
Apa itu ghazwul fikri??
Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. 
Berangkat dari masalah inilah, “benteng peradaban islam” mulai membuncah dari satu negara islam  ke Negara islam yang lain, berharap kelak mereka akan bersatu menjadi benteng yang kokoh .


Kita simak nasyid berikut :

Tinta ulama menggoreskan peradaban. .
Darah syuhada menegakan keadilan. .
Ayolah kawan jangan kau berpangku tangan. .
Bangun kembali peradaban islam. .
Raih kembali kejayaan islam. .
(Asy-syuja’, Visi Peradaban)


“Peradaban ya peradaban”. .


Mari kita bicara tentang peradaban islam, seperti apakah peradaban islam itu hingga ia menjadi tujuan yang sangat penting. .
Peradaban islam adalah terjemahan dari kata Arab al – hadha- rah al – islamiyah. Kata arab ini juga sering di artikan dalam bahasa indonesia dengan kebuayaan islam. Kalau kita baca definisi kebudayaan (culture), misalnya dalam Kamus yang sama: (1).The totality of socially transmitted behavior patterns, arts, beliefs, institutions, and all other products of human work and thought…., maka kebudayaan memiliki makna yang hampir sama dengan peradaban. Keduanya adalah hasil kerja manusia pada suatu zaman. Namun, dalam pembicaraan secara umum, peradaban nuansanya lebih luas, lebih menyeluruh, lebih sophisticated, dan lebih mentereng (http://serbasejarah.wordpress.com).


… Tak ada kata terlambat untuk membangun sebuah peradaban yang kokoh, masih banyak harapan yang serta merta mengelilingi kita.. .


Mari kita mulai dengan para pemuda/i. .


Para pemuda yang bersarang di kampus – kampus Indonesia ini adalah penerus bangsa, yang harus di bina akhlaknya lagi ilmunya. Mereka harus punya iman dan harus punya ilmu, serta amal yang baik. Oleh sebab itu, tempa lah mereka.
Lihatlah salah satu indikatior, saat sebuah masjid kampus itu ramai dengan kekhusyu’ an para mahasiswa dan para pendidiknya . maka di sanalah ada tali harapan.


Bagaimana dengan sekolah?


Mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah tingkat pertama hingga menengah tingkat atas.
Mereka pun tunas – tunas bangsa yang harus di perhatikan karena di sana lah harapan sedang di tanam, yang kemudian hari akan di panen.
Ada kisah yang membuat harapan itu membuncah.
Di sebuah sekolah dasar di kota Jakarta.
Hari itu adalah hari senin. Para siswa berpuasa sunnah hari senin, dan nanti setelah adzan berkumandang, akan di akhiri dg ifhor jama'i dengan para gurunya. Dalam usianya yang masih se-dini itu mereka sudah belajar tentang bagamana mengerjakan yang sunnah, sungguh guru - guru yang layak di acungi jempol.

…Pengajar yang Hebat dan anak didik yang luar biasa, salah satu Cikal Bakal terbentuknya Peradaban yang kokoh. . . 


Telah tumbuh kuncup – kuncup bunga di ladang peradaban, yang ia akan bermekaran dengan wangi yang semerbak kelak.


Menunggu sang pendidik menyiramkan air syurga dan memupukan benih iman pada kuncup- kuncup itu. Hingga mereka benar – benar  bermekaran, menabur cinta pada bumi.


Bagaimana dengan kita??


Apakah kita termasuk salah satu dari kuncup – kuncup itu??


Atau termasuk para pendidik yang akan menyiramkan air syurga dan memupuk benih iman kepada kuncup – kuncup itu??

Terus bergerak, berfikir dan bekerja. .
Kerahkan potensi kobarkan semangatmu. .
Berpegang teguh pada Qur’an dan sunnah. .
Jadilah khoiru Ummah. .
Jadilah ummat mulia. .

Luruskan niat dan rapatkanlah barisan. .
Maju kedepan tuntaskanlah perubahan. .
Membangun bangsa yg bervisi peradaban. .
Berjayalah INDONESIAKU. .
Bangkitlah wahai NEGERIKU. .

(Asy-syuja’, Visi Peradaban)
:: sejatinya setiap ladang itu ada penjaganya ::
Wallahu ‘alam. .

Senin, 05 Maret 2012

Nurani Burung

Ada yang menggelitik di fikiranku, membuat rasa ingin tahu menjadi terbakar dan berkobar - kobar. .
Setelah membaca sebuah E-book yang berjudul Virus-Virus Ukhuwah, Karya Abu 'Ashim Hisyam Bin Abdul Qadir Uqdah. .

Di dalamnya tertulis sebuah hadist :
Rasulullah bersabda : “Akan masuk syurga orang yang nuraninya seperti nurani burung.”


(Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Jannah Wa Shifatu Na'imiha Waahliha no. 2840. dan Ahmad dalam kitab Al-Musnad).



Dari sini timbulah pertanyaan besar, Mengapa Rasulullah menyebutkan "Nurani Burung" dan tidak tanggung - tanggung ia akan masuk syurga. Mengapa harus seperti nurani burung????

Rupany penasaran tingkat tinggiku membawaku untuk memperhatikan burung dan mencari tahu semua tentang nurani burung, seperti apakah ia hingga di sebutkan dalam hadist.
Selidik punya selidik, ternyata ada hikmah dari penciptaan Burung : 

"Mereka hanyalah seekor burung, keahlian mereka mampu terbang membumbung tinggi menembus cakrawala, menjelajah dunia luar angkasa. Mereka memiliki keterbatasan dalam mengeluarkan suara. Tapi, ditengah keterbatasan seekor burung. Mereka sangat pandai mengucap syukur kepada sang maha pencipta. Dia berusaha dengan kelebihannya untuk senantiasa mencari rezkinya tanpa ada keluhan sedikit pun terlontar dari paruh mungilnya. Dia berjuang dengan sekuat tenaga tanpa harus menunggu burung lain menyuapinya, tawakkal mereka kepada tuhan luar biasa tinggi, sehingga mereka tidak pernah merasa bahwa mereka adalah makhluk yang sangat terbatas. Perilaku burung yang Itsar terhadap burung lain, terutama kepada anak - anaknya. Saat ia mencari makan dan mendapatkannya segera ia bawa ke sarangnya, menyuapi anak - anaknya. dan menunggu sisa makanan dari anak - anaknya. bahkan terkadang aku melihat si anak burung membagi makanannya kepada sang induknya.
Tidakkah kita bercermin pada burung - burung itu??


Tidakkah kita belajar Bersyukur darinya??
Tidakkah kita belajar Tawakal darinya??
Tidakkah kita belajar Itsar darinya??
Tak Ada yang sia - sia dari apa yang Allah ciptakan di alam ini, melainkan untuk kita ambil hikmahnya. .
Wallahu 'alam. .



Rabb, Kenalkan Aku Pada Diriku. .


Bismillah. . .



Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah: Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukannya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya,bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya pada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati pada mereka.

Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan seseorang adalah: Jika bertambah ilmu pengetahuannya, bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain. Bila semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya semakin bertambah pula kesombongannya. (Ibnul Qayyim, Al Fawaid)

Saudariku,
Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca kalimat-kalimat di atas? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Smoga Allah swt membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang berbahagia dan menang. Semoga Allah menjauhkan hati dan langkah kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya. Amiin.

Saudariku,
Di antara manfaat lain yang bisa kita petik dari petuah Ibnul Qayyim itu adalah, kedalaman ilmunya tentang lintasan dan perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim yang banyak berguru pada Imam Ibnu Taimiyyah itu, berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya, sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yang maknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudariku,
Mengenali diri memang penting. “Man Arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,” orang yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Begitu kata Ali radhiallahu anhu. Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri, ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung, ketimbang orang yang sibuk dengan kekurangan orang lain.

Dan memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah ini adalah seperti dikatakan oleh Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.” 

Mari genggam erat-erat tali keimanan kita, Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan setiap getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan dan  kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri kita. Sebagaimana senandung do’a yang dilantunkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri, “Allahumma arrifnii nafsii….”
Ya Allah kenalkanlah aku dengan diriku sendiri…. 

*Mari berta'aruf dengan diri ^__^