Ada yang bersinar di sudut sebelah sana. .
Ku coba dekati. .
Berjalan perlahan – lahan hingga tiba persis
di depannya. .
Ia hanya cermin yang bening. .
Aku termenung. .
Ku dapati diriku pada pantulannya yang
cemerlang. .
Aku memandang dan terus memandang. .
Inikah
aku??
Sayang seribu sayang. .
Ia tak bisa memperlihatkan bagaimana niat, hati
dan jiwa. .
Ia hanya cermin yang memantulkan apa yang
terlihat dari luar. .
Tidak apa yang ada di dalam. .
Tidak niat. .
Tidak hati. .
Tidak
juga jiwa. .
==========================================================================
==========================================================================
Mari petik hikmah dari cerita seorang Umar
bin Khattab
Suatu ketika beliau mengejar-ngejar seorang sahabat
yang diamanahi daftar orang munafik oleh Rasulullah SAW untuk memastikan agar
belaiu tidak termasuk orang munafik. Dirinya takut sikap nifaq itu melekat
padanya. Saat Nabi menyebutkan secara rahasia nama-nama orang munafik kepada
Hudzaifah ibnul Yaman, timbul kegelisahan pada diri Umar. Jiwanya merasa tidak
tenang. Khawatir namanya termasuk dalam deretan orang-orang munafik yang disebutkan
Rasulullah. Maka, untuk mengusir rasa gelisah di hati, menepis kekhawatiran
yang bersemi, dan menambah ketenangan hati, Umar menanyakan langsung kepada
Hudzaifah ibnul Yaman. Umar berkata : “Wahai Hudzaifah, semoga Allah memuliakanmu,
Apakah Rasulullah menyebutkan namaku kepadamu bersama nama-nama orang munafik?”
Jawab Hudzaifah: “Tidak, Tidak ada (nama) seorang pun yang terbersihkan setelah
(nama)mu.” Apa yang diperbuat Umar adalah guna menambah ketenangan dirinya.
Padahal sungguh Nabi telah mempersaksikan
bahwa dia termasuk sahabat yang mendapatkan jannah (surga). (Al-Qaulul Mufid
‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 76,
Thariqul Hijratain, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 504).
Lalu bagaimana dengan kita?? Yang
tak sama sekali dipersaksikan oleh rasulullah bahwa akan masuk syurga. Yang
niatnya mudah sekali bengkok. Yang hatinya mudah sekali di hinggapi penyakit.
Boleh saja kita tiap hari bercermin, melihat tampilan luar kita dan kurang
memperhatikan bagaimana niat, hati dan jiwa. Karena sejatinya cermin itu tak
dapat berkata bagaimana keadaan dalam diri kita.
Hai kau diri, yang katanya tiap hari
beraktifitas mengatasnamakan menyeru pada kebaikan di jalanNya. .
Pernah kau tanyakan pada hati? Apakah
aktifitasmu sungguh karena Allah. Pernahkan kau bertanya pada hati? Apakah kau
menghafal al-qur’an sungguh karena Allah? Atau karena ingin di puji karena
punya banyak hafalan. Pernahkah kau bertanya pada hati? Untuk apa bertausiyah?
Apakah hanya supaya orang-orang bilang bertsaqofah banyak. Pernahkah kau
tanyakan pada hati? Apakah diri telah mengidap penyakit riya’. Pernahkan kau
tanyakan pada hati? Apakah melakukan kebaikan semata – mata karena pandangan
manusia? Bukan karena Allah. Dan coba tanyakan baik – baik pada hati, apakah
diri ini telah masuk dalam katagori munafik? Dan berkhianat pada Allah?.
Mari simak kisah shahabat Abu Ad-darda’ ra dan seorang guru abul waqt.
Suatu ketika, Jubair ibn Nufair mendengarkan
do’a yang diucapkan oleh shahabat mulia Abu ad-Darda’ ra. di akhir shalatnya.
Anda tahu do’a apa yang beliau panjatkan? ‘Audzubillahi minan nifaq (Aku
berlindung kepada ALLAH dari sifat munafik). Ya, seorang
sahabat seperti Abu ad-Darda’ begitu takut terhadap kemunafikan. Itulah
sebabnya, -masih menurut penuturan Jubair ibn Nufair- beliau mengulang-ulangi
do’a itu.
“Duhai tuan, ada apa antara Anda dengan
kemunafikan?” tanya Jubair kepadanya.
“Demi ALLAH! Sesungguhnya seseorang itu dapat
berubah-ubah dan berbolak-balik agamanya dalam satu jam, hingga akhirnya agama
itu tercabut darinya!” jawab Abu ad-Darda’
Seorang
‘alim bernama Yusuf ibn Ahmad Asy-Syairazy mengisahkan tentang salah seorang
gurunya yang dikenal dengan Abul Waqt. Sang guru ini dikenal sebagai salah satu
ahli hadits yang telah melakukan pengembaraan panjang untuk menyelami
hadits-hadits Rasulullah saw. Ia bahkan digelari sebagai ruhlah
ad-dunya (sang
pengembara dunia). Simaklah penuturan Yusuf Asy-Syairazy tentang gurunya yang
satu ini:
“…
ALLAH akhirnya menakdirkan aku bertemu dengan beliau di negeri bernama Kirman.
Saat aku pertama berjumpa, kuucapkan salam kepadanya lalu aku mencium (kepala
atau pundak)nya. Kemudian aku duduk bersimpuh di hadapan beliau. Tidak berapa
lama kemudian, beliau bertanya kepadaku: “Apa yang membuatmu datang
ke negeri ini?” Aku menjawab: “Engkaulah yang menjadi
maksudku, Tuanlah sandaranku setelah ALLAH Ta’ala, aku telah menulis
hadits-hadits yang engkau riwayatkan dengan penaku, namun aku tetap berusaha
menemui Tuan dengan kedua kakiku agar aku bisa mendapatkan keberkahan nafas-nafas
Tuan dan mendapat sanad Tuan yang lebih tinggi.” Beliau kemudian berkata:
“Semoga ALLAH memberikan taufiq dan keridhaan kepadku dan kepadamu. Semoga Ia
menjadikan segala upaya kita adalah karena-NYA. Semoga Ia menjadikan tujuan
kita hanyalah pada-NYA. Duhai, seandainya saja engkau mengetahui aku dengan
sebenar-benarnya, niscaya engkau tidak akan mau mengucapkan salam padaku.
Niscaya engkau tidak akan sudi duduk di hadapanku…”
Beliaupun menangis. Lama sekali. Hingga
membuat semua yang hadirpun turut menangis. Lalu beliau melanjutkan ucapannya,
“Ya ALLAH! Tutupilah aib-aib kami dengan perlindungan-MU yang Maha Indah, dan
jadikanlah apa yang ada di bawah perlindungan-MU itu sesuatu yang Engkau ridhai
untuk kami…”
‘Audzubillahi
minan nifaq, Aku berlindung kepada Allah dari sifat munafik. Begitulah
sekiranya kita meminta kepada Allah agar terhindar dari kemunafikan. Karena
sejatinya manusia itu di berikan dua jalan oleh Allah yaitu jalan kebaikan dan
jalan keburukan, jalan ketaqwaan dan jalan kedurhakaan.
Maka kami (Allah) telah memberikan petunjuk
(kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (jalan kebaikan dan keburukan). (QS.
Al-Balad : 10)
Dan
demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhami (jiwa manusia)
kedurhakaan dan ketakwaan (QS.
Asy-Syams ; 7-8)
Sunnatullahnya kita berdiri diantara dua jalan, terkadang jalan yang sedang kita tempuh sesuai dengan koridornya
yaitu berada di jalan kebaikan dan lebih sering keluar dari koridornya
yaitu pada jalan keburukan. Periksa lagi jalur kita berdiri apakah tetap pada
jalan yang lurus? Atau tanpa sadar kita sudah terjebak pada jalan keburukan
seiring dengan berbeloknya orientasi niat.
Mari pandai – pandai menginsyafi kadar diri,
karena boleh jadi orang lain menganggap kita baik tapi tidak di hadapan Allah. Karena
sejatinya Cermin itu tak dapat berkata tentang apa – apa yang ada pada dalam
diri kita. .
‘Audzubillahi minan nifaq. .
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi
showab. 



.jpg)
