Entri Populer

Sabtu, 19 November 2011

Jepang di mata ku . . .


1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.
Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, 
sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang
boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat
adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan.

2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi  ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran.  Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak 
SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi 
di belakangnya dengan memotong jalur ditengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila 
mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.  Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat
terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan 
hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core
business) perusahaan.

5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika.
Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang
lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi
dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia .
Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ,disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas 
masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan
buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam
beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.
Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga
seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam
kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor
Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa
mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok" . Musyawarah mufakat atau sering disebut
dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi".

9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. contohny di TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar
berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar
minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa
perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk
bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. dan para mahaiswa/i di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan
sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti mereka
kembalikan di bulan berikutnya.

10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya.
Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang
dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.
Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah
pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. 
Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua
resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang.
Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. 
Saya yakin ada faktor "non-teknis" yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. 
Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.


* ya Rabb, seandainya Kau izinkan ak utk bangun indonesia, mk aknku persiapkan tenaga ekstra utk membangun negeri ini, dg kokohnya pembangunan, teduhnya islam dan sejahteranya rakyat. . ^__^

Jumat, 07 Oktober 2011

Fakta menarik tentang hujan




1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.

2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.



3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter. 

4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.


5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.





6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.



 7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505x1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.



8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.



9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kul_kas.


10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan 'petrichor'.



11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”. Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi..








Rabu, 05 Oktober 2011

Akhirny,, Dwi Oktaviana, A.Md

Bismillah...

Dwi Oktaviana, A.Md

tak bisa ku bendung bahwasanya..

.."senang sekali, tpat 3 Oktober 2011"..
telah dinyatakan lulus dari AKADEMI KIMIA ANALIS BOGOR..

walaupun ak hny mendapatkan predikat "MEMUASKAN" dan bukan "CUM LAUDE"..
tp, hontou ni ureshikatta.. bnr2 bahagia..
Bisa menyelam sambil minum air. . Ada tugas mulia di samping gelar mahasiswa, yang sama - sama penting untuk di tunaikan. . ^__^

"terima kasih sebanyak2'y kpd ALLAH, Sang Maha Besar, Ibu dan Ayah tercinta yg mnjd smber motivasiku.. Kakakku (Putma Lesmana) dan Adikku (Juni Wibowo) yg mnjd sumber inspirasiku.. keluarga yg sll ak sygi.. Dina Ratnawati yg sll memberikan semangatnya.. dwi Oktaviani(saudara kembarku yg jg sdh A.Md) dan Cita Pertiwi yg mengantarku sidang serta menenangkan jantungku yg nyaris copot.. elva Istifany dan Kamila yg membantuku sgla sesuatu smpai ak bs mendaftr sidang.. Dimah Haryanti dan Syamsul Arifin yg jg sll mmberikan semangatnya.. Keluarga besar BeeOne dan gentar yg bnr2 sangat mendograk semangatku, serta seluruh pihak yg telah dg suka rela membantuku.. Domo arigatou gozaimasu..^__^

baiklah, ini akn mnjadi batu loncatan,,,

ak akan membopong predikat "Sangat Memuaskan" kelak saat ak akan meneruskan S1 ku, insyaallah..


1. Gizi, IPB
2. Ilmu dan Teknologi Pangan, Unibraw ..
3. Teknologi Industri Pangan, Sahid 

mereka menari - nari di otakku, meminta agar di segerakan. .
Bersabarlah mimpi. .


Semoga Allah meridhoiNya..






Hadapi!!!

Aku banyak belajar dari si pembuat jejak : 
Banyak orang yang menganggap kegagalan adalah sebuah akhir dari perjuangan, sementara ada sebagian lainnya yang justru menganggap kegagalan adalah awal dari perjuangan besar kehidupannya. Berikut saya ceritakan beberapa sosok sederhana yang mampu bangkit dari “kegagalan” dan rintangan kehidupannya menuju pencapaian gemilang... 
tentu ini hanya sebagian contoh saja, dan siapa tahu anda termasuk di dalamnya... 
Tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian... 
dan ini adalah bagian pertama... 
Bismillah... 
The Little Giant “Raksasa yang kecil” mungkin demikian saya menjulukinya. Perawakan sosoknya kecil layaknya seorang anak yang baru masuk SMA jika melihat raut wajahnya yang begitu muda, padahal umurnya tak beda jauh dengan saya. Berada satu fakultas dan satu angkatan dengannya membuat saya cukup akrab dengan dirinya, meski kami beda jurusan. Yang pasti, setiap saya bertemu dengannya, senyuman ramah diiringi dengan salam bernada halus tak akan ia lupa sertakan dalam interaksinya. Subhanallah... 
meski sedikit banyak saya tahu... 
selama kuliahnya ia berusaha membiayai dirinya sendiri dengan bekerja sebagai pengajar privat dengan gaji yang pas-pasan...
namun senyum tulus pada wajahnya yang polos itu selalu bisa menutupi permasalahan hidupnya hingga akhir masa studinya yang menghantarkannya meraih jenjang sarjana... 
Suatu hari saya berkesempatan bertemu dengannya dan meluangkan waktu untuk berdiskusi dengannya. “Alhamdulillah... Akh Danang, saya sudah lulus...” ujarnya dalam wajah penuh kepuasan. “Barakallah akhi...” jawab saya... (wah saya saja belum lulus-lulus... waktu itu hehehe). “Kalau saya mengingat semua yang saya alami demi meraih cita-cita ini... tak ada yang bisa saya lakukan selain bersyukur, bersyukur, dan bersyukur pada Allah... Subhanallah...” 
Dan mulailah ia bercerita bagaimana ia memulai penelitiannya di salah satu institusi penelitian terkenal di negeri ini. Awalnya berjalan mulus tanpa ada hambatan, hingga suatu hari Allah berkenan mengujinya. 
“... hari itu akh, saya diamanahi untuk menjaga satu lab yang di sana terdapat satu bak penampungan air untuk pemeliharaan benih ikan. Di tempat yang sama disimpan sekitar 5000an lebih benih ikan kerapu yang baru dipesan untuk tujuan penelitian dan budidaya. Kurang lebih harga satu ekor benihnya sekitar 5000 rupiah...” ujarnya memberikan penekanan pada jumlah dan harga benih ikan... 
“...waktu itu saya sedang mengalirkan air dari pompa ke dalam bak air. Mungkin karena agak lama penuhnya, saya kemudian berniat meinggalkannya sebentar untuk membeli makan siang di kantin bawah... Namun, na’udzubillah... saya lupa dengan pompa air itu dan keasyikan di kantin, padahal sebelum-sebelumnya saya tak pernah lupa... ketika sudah lewat 2 jam lebih saya baru ingat bahwa pompa air belum saya matikan...” Saya antusias mendengarkan kelanjutannya... 
“...saya berlari ke atas dengan kemungkinan terburuk di benak saya melihat kondisi ruangan itu... dan... astaghfirullah... ruangan itu banjir parah. Bak penampungan yang kokoh itu ternyata jebol tak mampu menahan debit air yang mengalir deras... sementara pompa masih menyala menyemburkan air dengan deras... dan...” tiba-tiba ia berhenti menatap saya sejenak... menarik napas... 
“... ribuan benih ikan kerapu yang disimpan di sana turut berserakan dalam genangan air itu. Menggelepar-gelepar tak berdaya... Panik sekali. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak saya... Sambil berusaha mengumpulkan benih-benih ikan kerapu itu, yang ada dalam benak saya adalah... ‘Apa yang harus saya lakukan, ya Allah...’
... ‘bagaimana mengganti semuanya?’... ‘apakah saya akan di DO?’... semuanya campur baur...” Saya tergugu mendengar ceritanya... membayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya menghadapinya... “...alhamdulillah... sekitar 2000an benih ikan kerapu berhasil saya selamatkan... namun demi melihat ruangan yang demikian hancur... saya bingung. Beberapa akuarium pecah, belum lagi bak penampungan air yang harganya jutaan juga rusak... dalam keadaan linglung... saya berjalan menuju bak penampungan air yang jebol itu dan melangkahkan kaki masuk ke dalamnya... berendam dalam dinginnya air yang tersisa... ya Allah, akh waktu itu saya lemas sekali. Hingga kemudian terlintas dalam benak saya untuk mengakhiri semuanya...” ia terdiam... 
Saya shock mendengarnya... “Masya Allah... terus, gimana akh?” 
“... saya sudah memegang pagar besi pembatas di lantai dua, menaikinya... dan... hampir saja saya meloncat dari lantai atas depan ruangan itu. Namun... entah mengapa... saya tidak jadi melakukannya... mungkin karena takut juga... tapi mungkin juga karena pertolongan Allah. Saya turun dari pagar... masuk kembali ke ruangan... dan mencoba untuk berpikir tenang...” Subhanallah... dalam kondisi kritis begitu bisa merubah suasana... penguasaan diri yang baik sekali... subhanallah... gumam saya dalam hati... “Akhirnya saya putuskan untuk memberanikan diri melapor dengan konsekuensi saya akan di-DO, harus membayar kerugian yang begitu banyak... atau juga ditahan oleh polisi karena merusak properti... tapi waktu itu saya hanya berpikir... bahwa saya harus menyerahkan apa yang tidak bisa saya kendalikan... kembali pada Allah...” 
“Maka yang pertama saya temui adalah asisten laboratorium dan menunjukkan kondisi ruangan yang kacau balau itu. Asisten lab itu terlihat begitu pucat dan terkejut... namun ia berusaha membantu untuk mengkomunikasikan pada dosen yang bertanggung jawab untuk ruangan itu. Orang kedua yang saya temui adalah penjaga laboratorium yang sudah akrab dengan saya semenjak awal penelitian. Resiko yang akan saya hadapi adalah... kekecewaannya pada saya akibat peristiwa ini... tapi saya berusaha untuk ikhlas menerima semuanya. Ketika saya tunjukkan padanya kondisi ruangannya... ia diam sejenak dan menatap wajah saya... sambil berkata...” “Ohhh... tidak apa-apa... tenang saja... sekarang kita bersihkan dahulu bareng-bareng...” “Dan demikian juga tanggapan dari dosen penanggung jawab ruangan itu, akh... ia tak sedikitpun mempermasalahkan peristiwa itu... bahkan saya tidak diberikan sanksi atau denda apapun... kecuali ya harus membersihkan ruangan itu... Subhanallah... syukur tiada kiranya saya akh...” ia tersenyum puas... Saya masih tertegun... sedikit terharu juga... 
“...andai saja waktu itu akhi, saya menuruti nafsu pengecut saya untuk tak bertanggung jawab... dan kemudian melompat dari pagar besi itu dan mati bunuh diri... mungkin saat ini saya berada dalam murka Allah hingga hari kiamat nanti... bahkan hingga mendapat azabnya di neraka... astaghfirullah...” ia menggelengkan kepala sambil menunduk dan diam sejenak... 
“...maka akhi... ketika engkau menghadapi masalah... hadapilah... seberat apapun itu konsekuensinya. Karena saya sudah membuktikan, bahwa Allah tidak memberikan suatu cobaan melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya... bersama kesulitan... ada kemudahan, akh Danang... dan inilah diri saya sekarang... lulus sarjana dengan sebuah hikmah luar biasa untuk dibagikan pada orang lain...
” Subhanallah... saya hanya bisa bertasbih setiap kali mengingat ceritanya... dan setiap kali bertemu dengannya... Kebahagiaan selalu saya rasakan karena dipertemukan Allah dengan sosok sederhana penuh inspirasi sepertinya... jazakumullah khair akhi... atas kisahnya. 

Semoga kisah antum ini akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi antum melalui inspirasi yang ditimbulkan olehnya untuk orang lain. 
Jazakallah akh Ima Lesmana (Budidaya Perairan 41, FPIK IPB) 
*Diceritakan kembali dalam uraian bahasa sastra... (masih terbuka untuk perbaikan...) 

Note: Teruntuk semua yang terus berjuang mewujudkan cita-cita dan impiannya... teruslah berjuang... tak peduli seberapa banyakpun kita jatuh... yang terpenting seberapa banyak kita mau untuk bangkit kembali! sugoi ne.... ^^

Mata seperti kaca..

Bismillah...

Allah menganugrahkan perasaan yg bgtu lembut pada hati setiap perempuan...
sehingga mereka dpt memahami kata-kata non verbal yg terlisan dr hati - hati saudara/inya..

 ak mndengar seorang teman yg berdo'a : "ya Rabb tutupi lah aib hamba, hilangkanlah sifat buruk dari diri hamba" bgtulah kira2 ia berdo'a..

ak sdkt memahami ap mksd do'amu.. membuatku jg meneteskan air bening yg jg kau teteskan..
sebuah air mata yg bgtu bening yg ak tak prnh melihatny lngsg kau meneteskanny..
tp ak mrasakan kau meneteskanny...
mngkn itu yg membuat matamu mirip dg kaca, indah, sungguh ukh..
Allah psti sangat menyayangimu ukh..
shg Allah sll menginginknmu utk sll mengingatNya..
Allah ma'ana ^__^

Kamis, 15 September 2011

itu bukanlah bintang, hny sebatang lilin yg bermimpi mnjdi bintang.. ^__^

dia..
bercahaya pd awalnya..
hmpir selaras dg bintang..
ya..
sama2 memberikan sinar pd saat malam kmbali datang..


bintang sllu mempunyai teman yg tak terhitung..
bgtu pula dirinya yg mengharapkan kehadiran teman..
krna dia sllu brtny, " mengapa aku sendiri"

teman2 bintang sllu menyapa bintang, tetapi dia sllu memulai utk menyapa org lain..
brharap kelak ad ssorg yg menyapanya..
saat terbesit untaian lelah, ia tersadar..
tdk bs memaksakan stiap orang utk menyukainy, "itu mustahil"

bintang bisa berkelap kelip dilangit senantiasa berkilau menggenggam impiannya..
begitu pun dirinya, sllu meloncat2 meraih impiannya, menggapai si bintang..
hingga lelah berkunjung, dan dia berhenti lalu duduk serta mendekap lututny..
sllu ad air bening yg jatuh dr kedua matany..


lagi, bintang pny keluarga yg begitu "utuh"..
bgtu pn dirinya yg sllu merindukan kehangatan keluarga yg tak kunjung menyentuhny..
hny berharap suatu saat rumahny akn utuh kmbali sprti keluarga si bintang..
sekali lg ia duduk dan mendekap lutut..
memandang ke langit dan menatap bintang..


lalu ia sadar,
baiklah, aku bukan bintang..
aku hanya sebatang lilin..
bgtulah akunya, tetap masih mendekap lututnya..
ia bertanya,
wahai Rabb, bukankah ENGKAU menyembunyikan kekasihMu diantara orang2 yg di pandang biasa???


ia berkata lg,
maka biarkan aku menjadi orang2 yg di pandang biasa itu..
aku tidak ingin mnjadi bintang.. aku ingn menjadi orang yg biasa itu..
maka, aku serahkan impian terbesarku pada MU, wahai Rabbku..
krna aku prcaya kau akn menjagany dg sangat baik..

kini..
aku cm pny satu impian..
ak ingin menjadi seperti cermin saja..
yg tdk pernah keruh dan selalu memantulkn aslinya..
cermin tidak pernah berbohong..
cermin selalu bersih hatinya..
ya wahai Rabbku..
aku ingin seperti cermin..
yg sllu mengoreksi hatinya dan menggambarkan apa adanya..


sekali lagi..
Ya wahai Rabb.
impianku hny satu yaitu mnjadi org baik yg aku mencintai Rabbku dan Rabbku mencintaiku..

Selasa, 06 September 2011

Rindu Masa-Masa Pnya Targetan Ini


mari laksanakan misi rahasia.. ^__^, kangennya..
pernah ada masa2 sprti ini, dmna menggebu2'y semangat utk mendapatkan IP terbaik.. menggebu - gebu meraih impian..

tunggu ya, bntr lg akn lnjut S1, insyaallah.. ^__^

Senin, 05 September 2011

Informasi beasiswa S3 ke Jepang untuk bekerja di luar negeri (untuk Non PNS)

Informasi beasiswa S3 ke Jepang untuk bekerja di luar negeri (untuk Non PNS)
untuk
Saya forwardkan info mengenai beasiswa S3 bidang Bioteknologi ke luar negeri untuk bekerja di luar negeri (Lulusan S1 juga bisa mencoba...). Monggo dibaca dengan seksama, pertanyaan lebih lanjutnya bisa langsung ke alamat email yang ada di tulisan ini.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.


Dear all,

Sekarang ini kesempatan beasiswa S-3 ke LN semakin banyak khususnya untuk PNS karena ada beasiswa DIKTI dari anggaran 20 % APBN, dsb.
Tapi bagi yg belum punya pekerjaan tetap, mungkin kesulitan untuk akses program2 seperti ini.
Sementara itu, bagi dosen/peneliti, setelah selesai studi harus balik ke lembaganya lagi di Indonesia.
Padahal kalau semakin banyak yg menetap di LN dengan menjadi Professor, Peneliti utama, CEO dll di bidang bioteknologi, pasti akan turut mendorong perkembangan bioteknologi Indonesia.

Untuk itu, kami mencari generasi muda Indonesia yang "belum punya pekerjaan tetap baik PNS/swasta" dan "setelah lulus S3 bersedia tidak pulang ke Indonesia" untuk meniti karir di LN bidang bioteknologi, buat diberikan beasiswa S3 belajar bioteknologi di Jepang.

Syarat akademisnya, calon sudah punya gelar S-2 dan pengalaman bekerja biologi molekuler, seperti karakterisasi protein, elektroforesis protein dsb. Karena ini program PhD, bagi yg baru punya gelar S-1, bisa melamar juga asal punya pengalaman riset minimal 2 tahun yg dibuktikan dg publikasi di jurnal internasional.

Rencana mulai studi di Jepang, April 2012.

Bagi yg tertarik dan memenuhi syarat di atas, silakan email CV lengkap dg foto untuk memastikan identitasnya, dan lampiran publikasi termasuk skripsi/thesis untuk memastikan pengalaman kerjanya itu dan essay minimal 1 lembar A4 bertopik "Mimpiku untuk Bioteknologi Indonesia" untuk memastikan motivasinya, ke witarto@yahoo.com sampai tanggal 16 September 2011.

Hanya yg dianggap memiliki kualifikasi saja akan dipanggil untuk wawancara.
Tahun lalu, sudah 1 orang yg berangkat dg program ini tapi tidak dijaring lewat undangan terbuka seperti sekarang.
Semoga dengan undangan ini bisa memberikan kesempatan kepada masyarakat yg lebih luas.

Arief Witarto
Yayasan Memajukan Bioteknologi Indonesia

Minggu, 21 Agustus 2011

poem ^^

Kanashimi no mukou ni hohoemi ga aru.

Ada senyuman di tepi seberang kesedihan.

kurushimi no tsukita basho ni shiawase ga matsu.

Ada kebahagiaan menunggu di tempat habisnya penderitaan.

sore wa sore wa shinjiteru.

Itu dan itulah yang kupercaya.

ima nagareru namida o toki no kaze ni kasanete…

sekarang aku menghapus air mata yang mengalir dengan angin waktu…

owatta kanashimi o shiawase ni kaete…

dan mengganti kesedihan yang telah berakhir dengan kebahagiaan…

kamisama…..

TUHAN….

shiawase ni naritai.

Aku ingin bahagia.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Agar Langit tidak semakin mendung...



bismillah...

setiap hari banyak pilihan disajikan, ketika itu pulalah kita merasa kehilangan, karena ada satu pilihan baru yang diambil, dan ada pilihan lain yang ditinggalkan. semoga pilihan demi pilihan yang kita ambil setiap harinya adalah pilihan yang menjadikan kita lebih baik, lebih baik, dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. semakin dewasa, semakin bijak, semakin tangguh, dan semakin mendekatkan kita pada Allah 'Azza wa Jalla hingga "bahagia" kala berjumpa denganNya..
tatkala yang lain memilih futur, mundur, dan gugur, yakinlah bahwa di tempat lain bermunculan pejuang-pejuang tangguh yang ikhlas berjuang dengan luapan semangat tak terbendung, berusaha menjaga "agar langit tak semakin mendung..."

di tengah penat dan lelah yang menggoncang azzam, sebuah sms kuterima:
"semangat Naa! sstt... jangan nangis lagi ya..akan selalu ada pundak untuk berbagi rasa di sini, percayalah kita akan tetap berjuang bersama sampai raga berpisah nyawa. Allah ma'ana koq! kamu gak sendiri.."
Arigatou...

"Biarlah.. ikhlaskan semua dan mendekatlah kepadaNya. agar tunduk di saat yang lain angkuh, agar teguh di saat yang lain runtuh, agar tegar di saat yang lain terlempar."

Sabtu, 02 Juli 2011

yuk Istiqomah









Bismillah..

Mari kita ambil makna dari bulan "JULI" = per[J]elas t[U]juan hidup lalu ga[L]I kembali mimpi2 dan potens[I] diri, jadikan bulan ini sebagai [J]alan t[U]k me[L]ipatgandakan amalan yaum[I], menu[JU] pribadi ful[L] prestas[I]..

isshoukenmei benkyou suru to, jyouzu ni narimasu.. yuk Istiqomah^__^

Rabu, 18 Mei 2011

Menghamparkan sajadah di negeri samurai,, InsyAllah 3 tahun lg..

Kuhamparkan Sajadahku di Negeri Samurai Dec 9, '09 10:18 PM
untuk
Hidup sebagai seorang muslim di negara yang mayoritas penduduknya muslim, terkadang membuat muslim di negara tersebut kurang menyadari kenikmatan mereka dalam berislam. Mengapa begitu? Betapa tidak, segala fasilitas yang mendukung peribadatan maupun keperluan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang muslim begitu mudah didapatkan. Masjid ada di mana-mana. Masjid satu dengan masjid lainnya terkadang bahkan hanya dipisahkan oleh jarak yang tidak lebih dari 100 meter saja. Musholla bisa ditemui hampir di setiap tempat dan sarana umum. Ruang dakwah begitu terbuka lebar. Kita bisa dengan sangat mudah menemukan tempat-tempat pengajian. Segala kemudahan-kemudahan tersebutlah yang terkadang membuat seorang muslim menjadi tidak begitu menyadari bahwa semua itu merupakan bentuk nikmat yang Allah berikan.

Namun, kondisi seperti itu akan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan para muslim yang ada di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Terlebih lagi bagi sebuah negara yang bernama Jepang. Jangankan yang penduduknya pemeluk agama selain Islam, tetapi justru yang namanya "agama" di negeri sakura nampaknya bukan sesuatu yang dianggap penting oleh penduduknya sendiri. Mungkin bagi teman-teman hal seperti itu bukan suatu hal yang wajar. Di mana setiap orang bisa sangat bebasnya menganut pemahaman bahwa agama bukan suatu hal yang penting. Tapi bagi masyarakat Jepang, hal tersebut memang sudah menjadi anggapan yang sangat umum. Oleh karena itu, jangan langsung percaya ketika ada orang Jepang yang memakai simbol-simbol agama tertentu dalam cara berpakaian mereka. Sebab itu belum tentu menggambarkan agama sebenarnya yang dia anut.

Sebagai contoh saja, ada seorang teman nihon jin yang se-kampus dengan saya saat itu, mengenakan kalung salib di lehernya. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah langsung menebak bahwa dia seorang Nasrani. Tapi kemudian saya dibuat bingung ketika suatu hari dia pernah bercerita pada saya, bahwa dia baru saja mengikuti upacara dalam agama Shinto. "Lho... bagaimana bisa seseorang bisa memiliki dua agama sekaligus?" Begitulah pertanyaan yang ada di dalam benak saya. Tetapi setelah saya tanyakan, ternyata dia sendiri mengaku tidak punya agama. Kalung salib yang dia pakai tidak lebih hanya sebagai mode fashion semata, sedangkan Shinto hanya ia anggap sebagai suatu tradisi yang perlu ia jaga. Terus terang saja, pada awalnya saya dibuat bingung dan terkejut oleh perilaku teman saya tersebut. Tapi lama kelamaan, setelah saya bergaul dengan lebih banyak lagi orang Jepang, akhirnya saya menyadari bahwa sikap seperti itu memang sangat umum bagi masyarakat Jepang.

Ketika saya menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di bumi Sakura, tahun 2005 yang lalu, saya tidak begitu menyadari "keanehan" seperti yang saya ceritakan di atas. Saya tahu bahwa Jepang adalah negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Hal lain yang saya tahu, Jepang adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Shinto atau Buddha. Walaupun sebelumnya saya pun pernah mendengar cerita dari ayah saya bahwa sebenarnya banyak orang Jepang yang tak beragama. Akan tetapi saat itu saya tidak langsung percaya. Saya baru percaya setelah akhirnya semua itu saya alami dan rasakan sendiri.

Dulu, sebelum keberangkatan ke Jepang, saya pernah punya sebuah tujuan yang saya anggap lebih mulia daripada sekedar menuntut ilmu di negeri Samurai itu. Tujuan mulia itu adalah tentu saja dakwah. Ikut ambil bagian dalam mensyiarkan agama Islam yang mulia di Jepang. Niat yang sejak awal begitu menggebu-gebu tersebut, akhirnya lama kelamaan harus banyak terbentur dengan segala keterbatasan. Persiapan mental yang sudah saya lakukan sebelum keberangkatan ternyata harus dihadapkan pada sebuah kenyataan betapa sulitnya menjadi seorang muslim di Jepang. Jangankan untuk berdakwah pada masyarakat Jepang, untuk memenuhi kebutuhan beribadah diri sendiri saja saat itu cukup menyulitkan.

Ketika di Indonesia, saya berusaha membiasakan diri untuk shalat tepat pada waktunya. Terkadang kalau sedang dalam perjalanan atau di luar rumah, dan saat itu sudah masuk waktu shalat, biasanya saya sempatkan untuk mencari masjid terdekat yang ada di sekitar tempat saya berada untuk shalat. Tetapi hal seperti itu hampir tidak dapat saya lakukan selama di Jepang. Rutinitas sebagai kenkyusei saat itu mengharuskan saya banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Sewaktu-waktu saya harus mencari literatur dari satu perpusatakaan ke perpustakaan lain. Berpindah lab dari satu lab ke lab lain, dan seterusnya. Ada kalanya ketika sedang dalam perjalanan, tiba waktu shalat. Dalam kondisi seperti itu, tentu bukan suatu hal yang mudah untuk mencari tempat shalat seperti di Indonesia. Jangankan masjid, musholla saja tidak ada.

Kalau sudah dalam kondisi seperti itu, pada awalnya saya suka meng'qodo shalat. Walaupun sebenarnya dalam hati ada juga perasaan bersalah ketika saya meng'qodo shalat. Karena menurut saya, perjalanan yang saya tempuh tidak begitu jauh. Apalagi dengan sistem transportasi di Jepang yang sudah sangat tertib dan nyaman. Baik chikatetsu ataupun densha, semua jam perjalanannya sudah terjadwal dengan baik dan dijamin tidak akan terlambat. Sehingga memungkinkan bagi kita untuk memperhitungkan waktu perjalanan tanpa harus khawatir terlambat karena kendala transportasi seperti mogok atau macet. Saya khawatir kondisi saya pada saat itu tidak cukup dijadikan alasan untuk meng'qodo shalat. Dan jika sudah seperti itu, maka tidak ada cara lain selain tetap shalat walaupun bukan di tempat yang selayaknya untuk shalat.

Oleh karena itu, mulai saat itu saya selalu membawa sajadah yang saya simpan dalam ransel ke manapun saya pergi. Pengalaman pertama ketika saya harus shalat di tempat umum adalah ketika sedang jalan-jalan di sebuah koen. Saat itu sudah tiba waktu dzuhur. Sedangkan saat itu kondisinya sepertinya tidak memungkinkan jika saya harus shalat di masjid atau musholla. Karena di dekat sana tidak ada masjid atau musholla. Akhirnya saya putuskan untuk shalat di tempat itu juga. Saya berwudhu di toilet yang ada di tempat tersebut. Kemudian saya cari tempat yang bersih, tidak di tengah keramaian orang, dan memungkinkan untuk melakukan shalat dengan tenang. Setelah mengamati lingkungan sekitar, akhirnya dapat juga tempat yang cukup nyaman. Tempatnya di belakang papan besar yang bergambarkan peta lokasi koen tersebut. Saya hamparkan sajadah dan memulai shalat di sana.

Setelah sampai pada rakaat kedua, saya lihat di depan ternyata ada seorang anak kecil yang terus saja memperhatikan saya sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya. Anak itu tetap saja terlihat walaupun saya sudah menundukkan pandangan ke tempat sujud. Karena merasa terganggu, maka saya pun menutup mata dan terus saja shalat. Tak lama kemudian ternyata anak itu datang lagi, kali ini dengan ibunya. Ternyata dia malah mengajak ibunya untuk melihat gerakan shalat yang saya lakukan. Walaupun tahu bahwa saya tengah jadi objek tontonan bagi mereka, saya berusaha tidak mempedulikan keberadaan mereka dan tetap shalat.

Karena terus merasa diawasi, akhirnya saya terus shalat sambil menutup mata sampai selesai. Setelah selesai dan mengucapkan salam, saya baru membuka mata, dan saya dapati mereka berdua ternyata sudah tidak ada di hadapan saya. "Alhamdulillah sudah shalat, lega..." Gumam saya dalam hati. Segera saja saya lipat sajadah dan memasukkannya kembali ke dalam ransel.

Ketika saya keluar dari balik papan peta lokasi yang besar itu, ternyata anak kecil dan ibu itu masih ada di bagian depan papan. Saya pun tersenyum pada mereka berdua. Ketika saya hendak pergi, sang ibu malah memanggil saya.

"Maaf, apakah saya bisa bertanya sedikit?" Kata si ibu.

"Oh... silahkan, ada apa?" Jawab saya.

"Begini, perkenalkan ini anak saya, namanya Taro, dia tadi bertanya pada saya tentang yang Anda lakukan di balik papan tadi, saya tidak bisa menjawabnya, tapi Taro sangat ingin tahu apa yang Anda lakukan. Saya khawatir memberikan jawaban yang salah pada anak saya. Jadi bisakah Anda menjelaskan gerakan apa yang Anda lakukan tadi di balik papan itu?" Tanya sang ibu.

Saya pun tersenyum mendengar pertanyaan si ibu tadi. Lalu saya jawab, "Tadi saya sedang shalat."

"Shalat? apa itu shalat?" Ibu itu balik bertanya dan nampak kesulitan menyebutkan kata "shalat" dengan lidah Jepangnya.

Kemudian saya berusaha menjelaskan kepada ibu tersebut semampunya yang saya bisa. Saya katakan bahwa shalat adalah ibadah yang harus dilakukan oleh orang beragama Islam, sama seperti ketika ibu melakukan upacara Shinto. Si ibu pun akhirnya mengerti apa yang tadi saya lakukan dan dia pun menjelaskan pada anaknya seperti yang saya katakan.

Begitulah... menyikapi perlakuan seperti itu memang dibutuhkan sikap yang hanif (lurus) dan ahsan (baik). Sebab anggapan mereka yang menyatakan bahwa shalat adalah gerakan-gerakan yang aneh, boleh jadi dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang shalat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang bijaksana dari kita sendiri untuk menghadapinya. Jangan sampai perlakuan seperti itu malah menjadikan kita malu untuk shalat di tempat umum jika memang sudah waktunya shalat. Sebab semakin sering orang Jepang (nonmuslim) melihat kita shalat, insya Allah lama kelamaan mereka pun akan semakin mengerti akan keharusan tersebut.

Ini hanya sebuah catatan kecil yang ingin saya sampaikan pada teman-teman semua. Pada intinya, janganlah karena suatu alasan yang tidak terlalu mendesak, maka kita melalaikan shalat. Shalat bisa di mana saja dan kapan saja, tentunya selama memenuhi syarat sahnya shalat. Jadi bersyukurlah bagi kita yang hidup di negara mayoritas muslim. Di mana berbagai kemudahan fasilitas beribadah bisa kita dapatkan. Tidak seperti saudara-saudara kita yang saat ini tengah hidup sebagai muslim di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

*****

Kamus mini:

1. Nihon jin : Orang Jepang asli
2. Senpai : Senior / kakak kelas
3. Kenkyusei : Mahasiswa riset
4. Chikatetsu : Kereta bawah tanah (subway)
5. Densha : Kereta rel biasa
6. Koen : Taman kota

Copas dari MP mujahidsamurai