Artikel Khusus Buatmu Saudaraku karena Allah
Wahai saudaraku, ana berharap ini bukan bagian dari ana menggurui atau sok lebih tahu dengan masalah yang antum semua hadapi, tapi Insya Allah ini bagian dari ana yang berusaha mengumpulkan sedikit demi sedikit amalan buat perbekalan ana di “Yaumul Akhir” kelak, yaitu dalam rangka memenuhi kewajiban ana sebagai seorang saudara, yaitu senantiasa memenuhi hak bagi saudaranya dan saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat tentang, sebenarnya apa tujuan kita berada di sini. “Watawa saubil haq watawa saubil shobr!”
Tidak mudah untuk tetap tabah dan bertahan dalam sebuah realita kehidupan, karena ia akan menghadirkan sesuatu yang baru yang perubahannya terkadang tidak kita duga. Masalah, kebingungan, dan kekecewaan menjadi suatu bagian yang selalu menemani kita dalam mengarungi luas dan sempitnya hidup ini. tentu saja disamping kenikmatan serta pahala yang dijanjikan nanti bagi insan yang percaya sepenuh hati bahwa semuanya merupakan hak Allah.
Yang perlu senantiasa kita ingat adalah kita merupakan jamaah insan bukan jamaah malaikat, yang tiada dinamikanya, dalam arti hanya konsisten untuk beribadah, namun tentu saja manusiapun tugasnya adalah senantiasa beribadah kepada Allah, tapi kita juga dituntut untuk menjadi makhluk sosial yang terus berinteraksi dengan mahluk lain. Di samping kita yang senantiasa punya masalah dengan ibadah kita.
Saudaraku, lembar muhasabah ini sengaja ana susun buat kita semua. Kita yang sama-sama sedang berjuang di jalan Allah untuk meraih Ridho-Nya. “Ya Rob, mudahkanlah bagi kami untuk mengarungi jalan hidup yang penuh kerikil ini.
Sudaraku, tidak mudah bagi kita untuk mengerti karena kita selama ini tidak mau mengerti dan tidak mau berusaha ingin mengerti. Wahai saudaraku yang lembut hatinya dan kuat pendiriannya, tidak mudah bagi kita untuk tetap berdiri tegak, karena sampai hari ini kita termasuk orang-orang yang senantiasa duduk dan menunggu. Entah apa yang kita tunggu, pahala melimpah jatuh dari langit dan jatuh tepat di depan mata. Jujur ana berani untuk mengatakan “ impossible”.
Sebenarnya kita tidak jauh lebih baik dari saudara kita yang mengemis atau meminta-minta di trotoar jalan, karena kita hanya senantiasa bisa meminta kepada Allah, namun kita tanyakan ke diri ini, Apa yang telah kita lakukan untuk-Nya? Yang paling memperihatinkan adalah, ketika permintaan kita terpenuhi, kita lupa untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Pengabul Permintaan. Jika sempatpun kita baru sebatas bisa mengucapkannya lewat mulut, bahkan mungkin kita tidak sadar kalau kita telah mengucapkan syukur. Apalagi untuk merasakannya didalam hati dan mengesensikannya di dalam perbuatan sehari-hari.
Jika saja kita coba untuk menyediakan sedikit waktu untuk merenung. Begitu banyak anugerah dan nikmat yang Allah berikan padahal kita jarang atau bahkan tidak pernah memintanya, apalagi yang kita pinta. Maka beristighfarlah kita semua yang didalam hatinya belum meyakini bahwa Allah begitu Maha Pengasih.
Seberapa seringkah kita berdoa kepada Allah ketika menjelang tidur, agar besok harinya mata masih berfungsi baik untuk melihat?
Jarang bukan? Atau mungkin bahkan tidak pernah?
Namun ketika kita terbangun di pagi harinya, mata ini tetap dalam kondisi bisa melihat sama seperti hari sebelumnya.
Dan apakah kita menyediakan beberapa detik saja untuk mensyukuri nikmat mata tersebut.
Jangankan menyediakan beberapa detik untuk bersyukur, malah kita pergunakan mata ini untuk melihat maksiat.
Bagaimana pula dengan telinga kita? Mulut kita? Tangan kita? Kaki kita? Dan semua nikmat yang telah Allah berikan pada kita?
Bahkan sangking banyaknya nikmat yang Allah berikan, tidak akan ada yang mampu menghitungnya.
Coba saja hitung banyaknya debu di gurun pasir!
Bahkan nikmat Allah lebih dari itu.
Terakhir saudaraku, biarkanlah doa-doa kita menunaikan tugasnya dalam kelembutan malam. Jadikan khusyu untuk berdialog dan bercerita kepada pemilik diri untuk memberi solusi terbaik dari semua solusi yang manusia berikan. “Berdoalah kamu kepada-ku niscaya akan kuperkenankan bagimu”(QS Al-mu’minun:60)
Akhirnya…. Maaf atas kekhilafan ana dalam menyusun artikel ini, yakinlah saudaraku bahwa akan selalu ada cahaya terang di gelapnya kehidupan yang telah kita lalui. Bersabarlah dan bertakwalah….! Dan untuk antum semua, semoga menjadi orang-orang yang berprestasi, khususnya berprestasi di mata Allah.
Lemahlah bagi setiap yang ingin lemah
Mundurlah bagi yang tidak kuat bertahan
Silahkan bagi yang ingin mengalami kefuturan
Sekiranya semua sepakat untuk berhenti maka aku tetap di sini bersama Robb-ku
Sampai kemenangan menjadi nyata atau syahid datang memuliakanku (Hasan Al-Banna)
Untuk bahan renungan kita bersama, resapilah kata demi kata yang ana pilih khusus bagi antum saudara ana yang ana nantikan semangat dan senyumnya.
“ketika SMS masuk kita cepat-cepat untuk membacanya dan sebisa mungkin membalasnya, namun kenapa ketika waktu shalat yang masuk kita tidak cepat-cepat untuk melaksanakannya, isi ulang pulsa puluhan bahkan ratusan ribu tiap bulannya sanggup, namun kenapa sedekah hanya ribuan terasa berat? Duduk ngobrol sesama teman satu jam dua jam sanngup, namun berdialog lama dengan Allah terasa berat, bahkan kita lebih memilih untuk memecahkan masalah dan mencari solusi dari teman kita, di bandingkan memohon pertolongan Allah”
Dan untukmu saudaraku yang sedang berjuang di jalan Allah, rasakan bait-bait kata berikut
“Lelah mendatangkan sakit, namun terasa begitu nikmat, nikmat itu akan datang ketika melihat senyum saudara kita mekar. Bahkan mungkin badan terasa remuk, namun tetap nikmat, karena hidup yang hina dan penuh dosa ini punya segores makna buat yang lain. Berat untuk dijalani jika hanya dipikirkan tanpa berbuat apa-apa, tapi ketika kaki mulai melangkah dan nafas mulai percaya, maka semua sakit menjadi anugrah”. Insya Allah…!!!
Wassalamu’alaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar