Di suatu sore di hari
hujan, ada seorang Al – ukh yang sedang bersandar pada dinding putih di sebuah
lorong yang memanjang, sebuah mushaf hitam yang sedang ia pegang terbuka
sedangkan matanya seakan tak fokus pada mushafnya, sesekali ia menengok ke
kanan dan ke kiri, lalu ia menunduk membaca Kitab Al-Qur’an dengan mata yang
berkaca – kaca dan mulai larut pada surat cinta Rabbnya. Butir – butir air mata
Kristal jatuh dari kedua ujung matanya.. Ia masih tetap menunggu seseorang yang
tak kunjung datang itu. Akhirnya seorang teman mendekatinya.
“Assalamu’alaikum
ukh, sedang apa?? Kok sendirian aja?” Sapanya
“wa’alaikumusalam,
sedang menunggu seseorang ukh, tapi sepertinya ia tak datang”. Tuturnya dengan
wajah sedih.
Setelahnya ia memeluk
temannya begitu erat, dan Al-ukh menangis sesegukan.
Sang teman membalas
pelukannya lebih erat dalam diamnya. Rupanya sang teman sudah mengetahui sebab
kegundahan saudarinya. Sebuah fitnah, berpuluh-puluhan justifikasi serta sikap
tak bersahabat orang – orang di sekitar Al-ukh ini lah yang membuatnya tak
tega. Hanya karena ia melakukan setitik kesalahan. Ibarat kertas putih yang di
goreskan sebuah titik hitam oleh pena, maka semua orang akan melihat kearah
titik hitam itu bukan ke bagian putihnya.
Sang teman menghiburnya dengan berkata “Ukh bersabarlah,
suatu hari ketika Allah membukakan tirai atas mu, maka saat itu juga mereka
akan meminta maaf kepadamu dengan hati yang sangat bersalah, karena begitu
banyak kebaikanmu yang tersembunyi itu tak mampu dihapuskan hanya dengan setitik
kesalahan yang pada awalnya adalah maksud baikmu kepada mereka. Sambil memeluk
Al-ukh lebih erat.
========================================================================
Pandangan mata selalu menipu. .
Pandangan akal selalu tersalah. .
Pandangan nafsu selalu melulu. .
Pandangan hati itu yang hakiki. .
Kalau hati itu bersih. .
Hati kalau selalu bersih. .
Pandangannya akan menembus hijab. .
Hati jika sudah bersih. .
Firasatnya tepat karena Allah. .
Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .
Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .
Pandangan akal selalu tersalah. .
Pandangan nafsu selalu melulu. .
Pandangan hati itu yang hakiki. .
Kalau hati itu bersih. .
Hati kalau selalu bersih. .
Pandangannya akan menembus hijab. .
Hati jika sudah bersih. .
Firasatnya tepat karena Allah. .
Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .
Tapi hati bila dikotori. .
Bisikannya bukan lagi kebenaran. .
Hati tempat jatuhnya pandangan Allah. .
Jasad lahir tumpuan manusia. .
Utamakanlah pandangan Allah
Dari pada pandangan manusia. .
(Snada, Pandangan Mata)
Begitu banyak
keterbatasan manusia, hingga dengan mudah ia menjustifikasi seseorang itu baik
atau buruk. Padahal, hanya panca indra tumpuan mereka.
Dalam sebuah hadits
di katakan:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat
rupa dan harta-harta kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu." (H.R.
Muslim).
Al
Qurtubi berkata, "Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak
diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya
seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau
perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang
lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk
yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt.
Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam
perbuatannya ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah
swt. memaafkannya.
Alangkah lebih bijak bila manusia melibatkan
hatinya dalam berkehidupan di dunia. karena hati yang bersih itu dapat membuka tirai – tirai yang menutupi atas
sesuatu. Sehingga firasatnya tepat karena Allah. Tentunya bila hati itu bersih,
apa yang tersampaikan adalah kebenaran. Bila hati itu bersih maka yang
tersampaikan adalah kesantunan bahasa sehingga tak menggoreskan luka di hati
saudarinya.
Pancaran
bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau
senyuman. Pastilah kita akan senang kalau melihat orang lain senyum kepada kita
dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara
mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting
adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar
kita, minimal dengan senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus,
ucapan salam "Assalaamu'alaikum", timbul dari hati yang ikhlas,
insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan
menyenangkan.
"Tiada satu hati pun
kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan
bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap.
Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar." (H.R.Bukhari dan
Muslim)
Sejatinya dalam sebuah hati itu terdapat
sebuah awan seperti yang dikatakan hadits tersebut. Ada saatnya ia tertutup
awan dan ada kalanya ia bercahaya. Maka hati
yang bersih senantiasa akan bersinar dengan cahaya itu, sinarnya akan menerangi akhlakmu dan
menerangi tiap langkahmu.
Namun, Hati itu mudah terbolak-balik, semudah
kita membalikan telapak tangan, mungkin lebih mudah dari itu. Maka berdo’alah
kepada Allah Sang Maha Pembolak – Balik Hati Manusia,agar senantiasa hatinya dibalikan kearah kebaikan. Agar Allah
membukakan tirai – tirai yang menutupi atas suatu perkara, sehingga yang kita
lihat adalah kebenaran.
"Syahr
bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah,
"Wahai ibu orang-orang yang beriman, do'a apa yang selalu diucapkan
Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?" Ia menjawab:
"Do'a yang banyak diucapkannya ialah, 'Ya Muqallibal quluub, tsabbit
qalbii 'alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah
qalbuku pada agama-Mu)." " Ummu Salamah melanjutkan, "Aku
pernah bertanya juga, "Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau
membaca do'a: "Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa
diinika." Beliau menjawab: "Wahai Ummu Salamah, tidak ada
seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan
Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan
siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan." (H.R.Ahmad
dan Tirmidzi)
Hadanallahu waiyyakum
ajma’in, wallahu a’lam bi showab.

ia manusia terkadang lupa, ia lebih disibukkan oleh penilaian manusia. ketimbang penilaiian Allah SWT.
BalasHapusSepakat, Pdhl yg utama adlh penilaian Allah ya ^__
Hapus